Batal Diet

Beberapa hari yang lalu, di kota tempatku merantau kini –Yogyakarta- aku kedatangan adikku, Fadil. Untungnya keputusanku untuk mengontrak rumah diawal tahun lalu sudah tepat sehingga ketika berada dalam kondisi seperti ini, dimana adikku adalah seorang laki-laki dan saya kakak perempuan, dia tetap bisa tinggal di tempatku.  Bisa dibayangkan jika kos-kosan, mungkin agak sulit untuk bisa tetap membersamainya selama disini.

Jika biasanya soal makan beserta pola dietnya menjadi hal yang biasa dalam rutinitasku, kini kebiasaan itu mulai “terbongkar” dengan kehadiran adikku. Saya yang memang biasanya lebih menyukai masak sendiri di rumah karena lidah belum terlalu cocok dengan masakan jawa yang serba manis, dibanding makan diluar, mulai menyediakan bahan dan menu untuk berdua. Tidak hanya itu, pola makanku yang biasanya porsi secukupnya menurut porsiku, kini harus selalu bertambah sedikit lagi. Semua karena adikku, fadil.  Saya yang sebelumnya sudah mulai terbiasa untuk mengurangi porsi makan malam bahkan hanya minum susu saja kini harus berdebat kecil dengannya.

Di ambil di om Google

Pembicaraan tentang diet pun baru saja kami bicarakan. Adikku fadil berusaha asertif dengan menyampaikan jika ia tidak menyenangi polaku yang mulai diet. Menurutnya untuk apa diet sedangkan badanku tidak gendut. Itu menurutnya, pikirku. Pada kenyataannya saya belum bisa dikategorikan gendut dengan berat badan 48 Kg yang masih dalam taraf normal untuk wanita seusiaku. Namun beberapa waktu lalu saya sempat di tegur oleh mama untuk mulai menjaga pola makan sebagai bentuk menjaga kesehatan dan tentu saja untuk segera memberikannya menantu. Ahahaha ..

Singkat cerita, kutanya fadil adikku akan persepsinya tentang cantik seorang wanita. Hanya penasaran saja dengan pandangan dia tentang konsep wanita dan cantik dari sisi seorang laki-lai meski ini tentu sangat subjektif. Menurutnya, tidak masalah jika perempuan itu gendut yang penting dia sehat. Kutanya ia lagi “ia memang sehat yang penting, tapi pasti fadil nanti kalau cari istri pasti yang langsing juga toh? Ya kan?”.tidak” tegasnya. Sekali lagi ia menegaskan jika tidak masalah jika nanti istrinya gendut selama sehat. “untuk apa cantik kak kalau sakit-sakitan, kita cari istri bukan untuk dipamerkan tapi yang bisa urus keluargata kak” ucapnya sambil mengakhiri pembicaraan kami yang sedang makan nasi goreng berdua dan tentu saja sambil menambahkan lagi porsi nasi untukku.

Oke. Jujur saja kata kata adikku soal “untuk apa cantik, kalau sakit-sakitan” masih terngiang-nging dipikiranku. Dan keputusanku malam ini berubah, saya tidak akan diet lagi.

Iklan

Cerita Pagi di 20 April :)

foto bayi dari om google 😉

Sejak 3 hari yang lalu ada dua buah sariawan lucu main di lidahku. Dampaknya, tak ada satupun makanan berat bisa masuk. Hanya jus, susu dan energen. Tentu saja mempengaruhi sistem imunku hingga pada akhirnya tadi malam sinyal sinyal demam dan flu mulai berkunjung. Pagi ini badan mulai meriang, dikuatkan dengan telpon mama yang meminta tuk beristirahat saja membuatku memutuskan untuk tidak ke kampus dan melupakan sejenak klien. Klien hari ini adalah diriku. Tidak boleh sakit atau lebih parah dari kondisi saat ini pikirku. Untung saja semalam teman kuliahku yang pulang kampung – Dhia – menitipkan motornya di kontrakanku. Segera saja kugunakan motornya dan  merencanakan “belanja sehat”. Dan sepanjang perjalanan inilah aku menemukan kasih sayang Allah yang tanpa batas lewat mana saja dan dimana saja.

Mari kita mulai dari Mbah. Mbah  adalah “kepala pembantu umum” ibu rumah tempatku mengontrak tempat tinggal. Setiap pagi, Mbah keliling mengontrol kondisi kos-kosan milik ibu rumahku. Ibu rumah cukup terkenal di daerah sini. Hampir semua kos-kosan cowok sekitar sini adalah miliknya. Yaa.. semacam juragan kosan. Hanya tempatku – rumah – yang dikontrakkan untuk putri. Jadi di kanan kiri kontrakanku adalah kosan cowok. Sayangnya saya masih menyukai lelaki Sulawesi hingga saat ini, jadi insya Allah tak tergoda *eh. Lanjut, Mbah menyapaku lebih dahulu saat sedang kupanaskan motor. Tanpa sebelumnya kuberitahu tentang kondisiku, beliau langsung menyentuh tanganku dan berkata “Mbak sakit? Mau kemana? Gak ke kampus?”. Setelah ku jelaskan rencana “belanja sehat” hari ini, beliau mengarahkanku ke tempat penjual bubur dan jus rekomended versi beliau. Alhamdulillah.. padahal sebelumnya bingung mau nyari dimana.. setelah kuiyakan, segera aku berpamitan dan melanjutkan perjalanan.

buryam
Foto ambil di Google

Ternyata bubur rekomendasi mbah sama dengan tempat yang biasanya kudatangi juga. Bagi teman-teman yang kuliah dan pernah menetap di jogja pasti tahu gerobak bubur ini. Lokasinya di jalan kaliurang 4 depan rumah makan Ngudi rejeki. Buburnya enak di lidah dan hanya 8000/mangkuk sudah porsi komplit dan hanya ada saat pagi hingga pukul 11.00 WIB. Oke, lanjut, setibaku disana segera kusapa masnya dan memesan menu seperti yang kumau – bubur ayam gak pake kacang, tambahin garam biar lebih asin karena lidahnya pahit plus sambel satu sendok – Mas bubur kemudian bertanya “Mbak sakit? Tenang mbak, bubur saya sesuai resep dokter”. Ahahaha.. ada ada saja mas bubur ini. Setelah tertawa perasaanku menjadi lebih nyaman. Terima kasih Mas bubur yang baik. Sayangnya gak sempat foto warungnya.

agro ugm
Agro tampak depan – diambil dari google 🙂

Melanjutkan perjalanan ke Agro. Salah satu supermarket milik teman-teman Agrobisnis UGM. Jualan disana hampir semua merupakan hasil olahan alami dan sehat. Banyak susu segar dan hasil tanaman langsung dari pertanian UGM dan tentu saja harganya sesuai kantong mahasiswa. Sehat dan terjangkau. Disana saya membeli yogurt segar, madu dan obat. Karena bingung memilih yogurt sambil mempertimbangkan rasa dan harga, ada seorang mas-mas yang sepertinya adalah karyawan Agro yang kemudian menghampiri dan membantuku menentukan pilihan dengan menjelaskan perbedaan kualitas. Ah senang. Kalau sakit begini yang dipikir itu kualitas biar badannya sehat, bukan harganya. Hihihi.. dasar! 😀

yohanes
ketemu fotonya di om google

Perjalanan kembali ke kontrakan, aku bertemu dengan Yohanes – akhirnya ku tahu siapa namanya – anak kecil penjual Koran. Bagi teman-teman mahasiswa di jogja yang senang main di Sunday Morning (Sunmor) UGM pasti tidak asing dengan anak ini. Dia selalu menjual korannya sambil teriak “kak korannya.. korannya.. koraaaaaan..” dengan suara lantang. Anak ini terlihat pede dan bersemangat berkeliling menjual korannya. Dan barusan aku menjumpainya di lampu merah. Segera aku singgah dan membeli satu korannya. “namamu siapa? Kamu gak sekolah?” tanyaku. “namaku Yohanes, tidak sekolah kak, mau bantu orang tua” ucapnya. Badannya kurus kecil dengan kulit kecoklatan efek terbakar matahari.

Saat ini mungkin pendidikan bukan hal yang penting menurutnya dan menurut orang tuanya. Sayangnya, kita tak bisa menuntut menyalahkan, jelas seorang anak memiliki hak untuk sekolah, namun untuk hidup sulit baginya. Disini terlihat jelas jika pendidikan itu sangat penting. Pendidikan yang membuat orang tua paham jika yohanes masih saja tidak bersekolah, kelak, dia sendiri yang akan mencetak yohanes yohanes berikutnya. Tapi saya percaya, skenario Allah pasti baik. Setidaknya saya bisa belajar untuk lebih banyak bersyukur dan sekolah dengan benar. Bukan sekolah untuk ajang keren-kerenan. Selamat berjuang dik. Semoga setelah ini ada solusi-solusi yang bisa kubahas dengan teman-teman volunteerku.

Bola Untuk Arasya

Dalam perjalanan pulang baru kusadari jika lupa membeli jus. Beruntung penjual jus dekat rumah sudah terbuka – saat berangkat masih tertutup – singgahlah aku. Saat memesan jus, lewat seorang kakek penjual balon balon maka kuhampiri beliau sekedar menyapa dan menanyakan jualannya, pas juga kemarin Arasya – anak temanku mita – berulang tahun, saya percaya pertemuan ini adalah bagian dari skenarioNya. Rejeki nak Arasya dapat bola, rejeki bapak berjumpa pelanggan manis sepertiku. Maka kubeli saja bola bola mainan ini. Beliau bernama pak suparman, seluruh jualan balonnya dihargai 10ribu/buah. Beliau sehari hari menjajakan jualannya dengan berkeliling dan tidak menetap di satu tempat. Semoga Allah memudahkan rejekimu, pak! Amin.

Masih di tempat jus, ibu penjual jus bernama ibu Yuli, mungkin karena melihatku

17990580_1670707589611357_6555700380270821341_o

terbatuk-batuk sambil menggunakan masker dan memesan jus lebih dari satu – biar jadi stock dan gak harus keluar rumah terus pikirku, beliau berkata lebih dahulu “Mbak Sakit? Sejak kapan? Mbak tinggal dimana?” setelah kujelaskan kondisi dan lokasi tempat tinggalku yang hanya berjarak 5 rumah dari tempatnya, beliau menyarankan untuk meminum air rebusan kacang hijau. Kata beliau manfaatnya bagi tubuh sangat banyak tidak hanya untuk sariawan. Alhamdulilah.. dapat info baik dan kenalan baru lagi.

Dan siang nanti aku akan mendapatkan kunjungan istimewa dari sahabatku Andi Halimah. Sejak kami tidak sekontrakan dan tidak sekamar lagi, dia yang sudah seperti saudaraku masih rutin berkomunikasi. Nanti cerita baiknya adalah dia akan datang dan memasak ikan masak kuning untukku. Makanan khas Makassar yang sangat kurindukan. Cant wait to see you here, Halima! Horreee 😀

Alhamdulillah.. Sakit membawa nikmat.

Jika saja aku terus mengeluh dan hanya menangisi kondisiku dengan tetap berbaring di kamar dan hanya memanfaatkan pesan delivery saja, mungkin hal-hal baik yang kutemui di pagi hari ini tak akan pernah kujumpai. Setiap kejadian dihadirkan dalam hidup, baik buruknya adalah cara Allah menunjukkan kasih sayangnya. Jika baik itu adalah bentuk  sayangnya, jika buruk itu bentuk Ia ingin membuat kita lebih dewasa dan belajar untuk mensyukuri nikmatNya.

Alhamdulillah 🙂

Yogyakarta, 20 April 2017

Tulisan ini dituliskan dalam posisi makan bubur (akhirnya bisa makan) sambil menikmati Koran hari ini dengan isi berita pak Anis menang. Banyak kabar baik pagi ini. Insya Allah selangkah lebih dekat menuju sembuh.

Yeiy! ^-^

Dinda Dindong

“Oi fan!, Fan, dimana? Fan, puasa?

Fan, liat tuh.. fan, tau gak? fan itu cakep  loh!, hmmm.. enak..”

    Mudah sekali rasanya akrab dengan perempuan ini. Dinda namanya. Usianya 2 tahun dibawah usiaku namun “lebih tua” dariku. Sekali waktu ia pernah mencoba memanggilku kak fany dan rasanya aneh. Hahaha.. sudahlah. Gadis medan penyuka segala makanan, penyelamat maprodik ketika berhadapan dengan dosen yang dasyat, yang kerjanya kalau bukan tidur ya belajar ini sudah hampir setahun menjadi sahabat karibku yang sehati. Sehati dalam arti selera humor kami sama. Meski tak bersampingan, hanya dengan lirikan mata dari jauh, kita sudah bisa menertawakan hal yang sama yang tak ditangkap oleh teman yang lain. tidak hanya selera humor, kami selalu sefrekuensi dalam hal pendapat, pun jika tidak, ia bisa “mengalahkan” persepsiku dengan masuk akal. latar bealkang minat pada dunia volunteer dan “hobby” duduk di depanlah yang menjadi awal dekatnya kami. Beberapa jam lagi adalah hari ulang tahunnya. Entah karena keakraban tanpa batas yang dimiliki Maprodik, sudah dari jauh hari dia dengan tanpa rasa malu mengingatkan ulang tahunnya di kelas. Tentu saja dengan tanpa rasa malu pula kami mengingatkannya untuk membayar kas dulu kalau mau dibelikan kue. Hihihi.. sabar ya din.
 

 

Dinda anak yang cerdas. Semua mengakui itu, yah minimal maprodik. Kecerdasannya semakin terkonfirmasi setelah ia menjadi muridku main scrabble di kelas (serasa paling jago). Dia salah satu muridku yang dengan sombongnya menolak bantuan jawaban dariku karena tidak menemukan jawaban dan pada akhir permainan bisa mengalahkanku dalam pertandingan pertama. Kini dia selalu menantangku bermain lagi setelah kemenangannya yang satu kali itu. “baru sekali din.. siap-siap aja ya kalah :P”.
Selain dalam hal permainan, dalam hal makanan juga selera kita sama. Sama sama berpikir bagaimana bisa makan banyak namun tetap hemat, teman janjian puasa senin kamis dan sesekali teman membawa bekal. Dia termasuk pemakan segala. ketika ada makanan dan harus berbagi denganku, tentu saja ia pasti mengambil potongan yang lebih besar dan yang lebih kecil untukku. Ahahaha.. sangat tidak menguntungkan.
 
        
 
  Seperti yang sudah kusebutkan diawal, dinda kerjanya kalau tidak belajar ya tidur. Dia bisa tidur dimana saja tanpa mengenal waktu. Ketika di kelas saat yang lain tengah presentasi misalnya. Mungkin dari sekian banyak foto tidur di kelas yang tersebar, dia sudah bukan wajah baru lagi. Wkwkwk.. begitupun faktor budaya, darah medan yang mengalir didarahnya membuatnya terlihat cukup tegas sehingga tampak garang namun aslinya sangat konyol. Dia bisa tertawa dengan mudahnya bahkan seringkali tak mampu ia kontrol meski ada dosen sekalipun. Meski begitu ia pun anak yang lembut hatinya, ia bisa menangis hanya dengan menceritakan kondisi kliennya saat presentasi. Sungguh saya banyak belajar akan ketulusan darinya saat mendampingi klien.
 
      
Sekali waktu, ia pernah kehujanan sehingga basah dan menjemur kaus kakinya di bawah meja dosen. Jika saja tidak ditemukan oleh salah satu dari kami, mungkin kaus kaki itu akan abadi dibawah meja dosen. Beruntung tak satupun dosen menyadarinya, namun bisa saja ada yang menyadari namun sungkan tuk menyampaikan. Tentu saja ini kemudian menjadi bahan celaan dan tertawaan berhari-hari oleh kami, Maprodik.
 
    
Dinda.. dinda.. tentu saja masih banyak hal yang tak bisa dituangkan dalam tulisan. Adalah sebuah kesyukuran ketika Allah mengijinkan kita tuk berjumpa dan dekat seperti ini. semoga disisa usiamu ini semakin ceria, semangat berbagimu terus berkembang, senantiasa bermanfaat bagi sesama dan tetaplah seperti ini, menjadi dinda kesayangan kami dengan segala kebaikan dan kekuranganmu. Dalam ilmu kita sering kita sebut unconditional positif regard. Ya seperti itu...

Yogyakarta, 26 Maret 2017
 at 10.55 PM
 
 Temanmu,
Gadis Bugis-Makassar,
 Fany gak pake Ji.

 

Sesederhana Rasa dibalik Telepon

Beberapa waktu lalu saat aku masih berada di daerah tugas, sebuah pesan asing datang menyapa. Sembari mengajakku tuk mengingat kembali siapa dirimu, engkau menawarkan sebuah proyek padaku. Sosok sederhana yang saat ini tengah mengabdi di sebuah pulau terpencil di Negaraku. Sungguh tak semua pemuda di negaraku ini mau dan mampu mengemban amanah mulia dan luar biasa sepertimu.

Kesibukan tugas Negara menyita banyak perhatianku sehingga sempat menomorduakan proyekmu yang sebenarnya pun setengah hati kuiyakan. Hingga menjelang waktu yang telah disepakati, masih juga belum tereksekusi.

Kembali sore itu panggilanmu muncul disaat aku tengah menghabiskan waktu bersama ukhti-ukhtiku untuk mempersiapkan masa depan. Tak enak hati dan gelisah tak ada gerakan dari yang lain, akupun berinisiatif memulai pertemuan yang itupun difasilitasi olehmu yang jauh.

Persiapan 2 hari pun terlaksana. Tak lepas dari pantauanmu pada kami. Iya, semua biasa saja. G ada yang istimewa. Berjalan lancar dan menyenangkan.

Tertidur. Panggilanmu yang tak terduga disaat aku tertidur  lelah. Sapaan hangat dan tekanan suara terkaget mendapatiku tengah tertidur. Entah kenapa terdengar manis ditelingaku. Bahkan diam-diam aku masih sering mengingat ingat kembali pembicaraan kita malam itu dan mencoba mereka ulang waktu.

IMG_20160502_084507Iya, Sesederhana itu.

Beberapa waktu terakhir pun begitu. Panggilanmu kembali masuk disaat yang tepat menurutku. Kamu selalu muncul bertanya disaat aku tengah melakukan perjalanan rahasia. Bagaimana cara membuatmu tahu jika kamu yang pertama tahu?

Entah kenapa beberapa hari ini ingin sekali kutuangkan rasa ini. Tak peduli kelak akan kuberikan padamu atau hanya sekedar bagian dari ceritaku saja. Jadi, kapan kamu menelpon lagi?

 

Makasssar, 4 Juni 2016

Rumah & Teh Hangat.

*sesekali melirik foto whatsappmu yang baru saja diganti.

Perjalanan MenemukanNya

Dusun Waiwai, Desa Latimojong. Bagi orang Enrekang, desa ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga mereka. Meski tak asing, tak sedikit orang yang berdarah asli Enrekang belum pernah kesana. Salah satu jalur yang dilewati bagi mereka para pendaki yang ingin menuju gunung Latimojong (salah satu gunung tertinggi di Indonesia). Beberapa orang yang kutanyai lokasi tempat tersebut memiliki jawaban yang hampir seragam, Jauh dan dingin.

Perjalanan kali ini terhitung mendadak. Tawaran ikut ke desa Waiwai ini kudapatkan dari kawanku sofia di pagi hari sebelum shalat jum’at dan rencana perjalanan akan dilakukan di sore harinya ba’da shalat ashar pada hari yang sama. Tujuannya sederhana, bersilaturahmi. Tak perlu waktu lama untuk mengiyakan. Mendengarkan tawaran itu saja, di kepalaku sudah terbayang indahnya perjalanan kami nanti.

Gunung Nona – Diambil dari google

Kabupaten Enrekang sangat kaya dengan keindahan alam pegunungannya. Allah menyempurnakan penciptaan bumi dengan memancangkan gunung-gunung sebagai pengokoh bumi dan juga sebagai keindahan serta nikmat-nikmat lainnya. Sungguh maha karya luar biasa ciptaan Allah, bagi mereka yang paham.

My Favourite Mountain, Gunung Bambapuang – Diambil di Google

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya.” (QS:Ar-Ruum | Ayat: 25).

Bercerita tentang keindahan mungkin tak akan pernah cukup tertuang dalam rangkaian kata. Namun perjalanan kali ini benar-benar menjadikanku menyadari sepenuhnya bahwa diri ini hanyalah seorang manusia sekecil-kecilnya manusia. Ajal itu dekat. Bahkan lebih dekat dari hirupan tiap nafasmu. Sebuah kesyukuran yang luar biasa bisa menuliskan perjalanan ini dan menemukan raga ini masih utuh. Hidup adalah kesempatan, pergunakanlah sebaik mungkin.

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Tepat lepas adzan shalat ashar berkumandang, kami meninggalkan kota kabupaten Enrekang menuju dusun Waiwai. Berdasarkan data Google maps, Jarak tempuh perjalanan kami sekitar 95,4 KM dari kota Enrekang ke desa Latimojong dan bisa memakan waktu 2 jam 11 menit. Namun kenyataannya, kami tiba ba’da isya sekitar pukul 9 malam (jam di hp), sekitar 6 jam perjalanan, 3x lipat dari waktu seharusnya. Justru proses perjalanan inilah yang menjadi penanda bahwa kami hanya hambaNya yang hanya mampu berencana.

dokumentasi pribadi

Perjalanan diawal sangat menyenangkan. Suguhan keindahan alam tak berhenti mencuri perhatian kami meski bukan pertama kali melewatinya. Singgah di kecamatan Baraka untuk mengisi perut dan masih bisa tertawa riang. Kesederhanaan itu membahagiakan. Begitupun hal-hal sederhana yang bisa menjadi bahan tertawaan. Menemukan tulisan okkots misalnya. “hati-hati ada pengecorang”. Bahkan singgah hanya untuk mengabadikan dan menikmati kebahagiaan kecil dari kata okkots tersebut.

Perjalanan yang ditempuh dengan motor bebek ini tidak membuat kami berpikir bahwa perbaikan jalan benar-benar akan melumpuhkan perjalanan sehingga tak bisa melewatkan sebuah motorpun. Setelah jauh menanjak, kami harus berjalan berbalik kembali kearah Baraka dan melanjutkan perjalanan melalui jalur lain. 12736665_1251292111552909_63372824_oWarna langit kemerah-merahan sudah bisa menggambarkan jika malam sudah siap menyapa. Begitupun bensin yang mulai mengkhawatirkan.

12755096_1251292154886238_1349489394_oPerjalanan yang mendebarkan dimulai. Tanjakan dan jalanan berbatu tampak seperti tak berujung. Dalam kondisi seperti ini ketika berada dalam kesulitan baru bisa bersyukur betapa kayanya diri ini, Mendapatkan jalanan dengan cor sungguh sangat membahagiakan. Sepanjang perjalanan tak terhenti lisan kami menyebut namaNya. Raga sudah sangat kelelahan namun tak ada alasan untuk mengeluh mengingat aku hanya duduk dikursi penumpang. Sedangkan sofia yang berjuang menembus perjalanan tak pernah mengeluh bahkan tak berhenti menanyakan kabar dan menguatkanku.

Tiba di desa Pasui disambut dengan mati lampu. Singgah shalat maghrib, mengisi bensin dan meluruskan badan sejenak di masjid. Kata sofia perjalanan masih memakan setengah jam lagi. Badan yang sungguh ingin merengek menjadi semangat lagi. “Tak lama lagi sampai” pikirku. Langit sudah gelap, bahkan bintangpun tak terlihat. Hati terus berharap semoga tak hujan dan cepat sampai ke dusun Waiwai.

Perjalanan yang menegangkan dimulai. Gelap, becek, jalanan menanjak dan berbatu licin kami tempuh. Motor mulai terpleset, jatuh berkali kali, turun dan berjalan kaki lebih dahulu dalam kegelapan awalnya sangat membuatku takut. Takut akan gelap dan berada ditengah hutan gunung yang terus menanjak sungguh waktu yang sangat tidak tepat untuk mengijabah satu mimpiku melakukan pendakian gunung. Sekali, dua, kali, tiga kali terjatuh dari motor membuat kami mulai terbiasa. Bahkan saya mulai berani menawarkan diri berjalan kaki dan memimpin perjalanan bermodal senter hp, karena motor hanya mampu digiring dibanding dikendarai dengan kondisi jalan seperti ini

Gelap adalah satu satunya kata yang bisa mendeskripsikan malam itu sehingga tak ada dokumentasi sama sekali. Saya pun tak pernah menyangka di atas gunung akan menemukan rumah besar yang sangat kokoh dan bagus. Kami singgah meluruskan kaki di terasnya dan bintang mulai telihat. Satu satunya objek indah adalah melihat langit. Sakit adalah kata yang paling tepat mendeskripsikan letihnya raga ini. Diri ini semakin menyadari bahwa kami bukanlah apa-apa tanpaNya. Sungguh Maha besar Allah dengan segala penciptaanNya.

12633329_1251292721552848_765905928_o
Gunung longsor – diambil di keesokan pagi

Perjalanan tak juga melunak, bahan semakin menegangkan. Jalanan berbatu, licin berbelok belok tajam dan terus menanjak membuatku lebih banyak menghabiskan perjalanan dengan berjalan kaki. Hingga tibalah kami pada satu titik perjalanan dimana pasrah adalah satu satunya pilihan. Ada gunung longsor. Pilihan hanya ada 3. Berjalan kembali, meneruskan perjalanan atau menginap di tempat kami berdiri saat ini. Memikirkan perjalanan panjang kami untuk naik ke posisi sekarang membuatku tak sanggup untuk berbalik arah. Menginap dimana? Disini? Kami tak merencanakan camping. Sedang badan ini menuntut untuk bisa berbaring. Meneruskan perjalanan dengaan berjalan kaki dan meninggalkan motor ditengah gunung ini menjadi satu satunya pilihan terbaik dari pilihan lain yang tak lebih baik. Sofia kemudian menyimpan motor di kolong rumah warga yang kosong tak berpenghuni lalu kami melanjutkan perjalanan.

12722186_1251292248219562_2012247452_o
Melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki, selfie kaki sofie – diambil oleh dirinya sendiri.
12752100_1251292654886188_1036963706_o
Air Terjun sebagai PLTA Desa Latimojong

Satu satunya sumber cahaya hanyalah cahaya senter telepon genggam kami. Bercerita banyak hal, mengurangi rasa lelah dan takut. Dunia kami hampir sama, baik dalam pergaulan dan pekerjaan. Sofia sungguh kawan yang baik. Saya tahu ia lelah, bahkan 1000x lebih lelah dariku namun tak sedikitpun keluhan terdengar dari lisannya. Hingga pada satu titik perjalanan yang mulai menurun dan terjal. Suara air sangat kencang. Ketakutan kali ini sungguh tak bisa kusembunyikan lagi, begitupun sofia. Dzikir yang tadinya kami ucapkan diam diam pun semakin terdengar. Bagaimana jika banjir? Bagaimana jika? Bagaimana jika?. Ternyata ada air terjun besar yang juga menjadi PLTA masyarakat disini. Airnya sangat kencang dan deras hingga suaranya memekakkan telinga di tengah kegelapan perjalanan ini.

12476923_1251292574886196_487515732_o
longsor berikutnya

Lagi lagi aku menanyakan sisa jarak perjalanan dan lagi lagi sofia bilang sebentar lagi. Dalam perjalanan kami, menemukan longsor berikutnya meski dengan ukuran lebih kecil. Intinya sama-sama longsor dan bahayanya sama. Yang berbeda mungkin kadar rasa takutnya karena sudah melalui ketakutan itu sebelumnya. Dalam perjalanan yang gelap, dari kejauhan kami melihat lampu sorot. Kata sofia disana sedang ada acara dan aku percaya saja. Hingga lampu sorot itu kemudian menyorot tepat pada kami. Mungkin seperti ini perasaan orang-orang orang yang tersesat dihutan lalu ditemukan yang seperti yang biasa kulihat di film-film. Lega, takut dan ingin berteriak melambai-lambai lalu menunggu helikopter menjemput.

IMG_2922
Pak Ikhsan dan elsi, menyambut kami dalam kegelapan – foto diambil oleh shofyan ardiansyah
12752179_1251292264886227_1250466854_o
sumber pencahayaan di rumah pak Ikhsan dengan menggunakan kapas bekas dan sisa minyak goreng yang dibakar

Kakiku sudah mulai gemetar. Tak bisa lagi kusembunyikan kelelahanku pada sofia. Beruntung pada saat yang sama handphone kami mendapatkan jaringan dan bermodal baterai yang sekarat, segera kami menelpon pak Ikhsan (keluarga yang ingin kami kunjungi). Bersyukur beliau belum tidur dan turut mengkhawatirkan kami. Kali ini sofia benar, kami sudah dekat dan tibalah kami pada rumah panggung pak Ikhsan. Disambut hangat oleh keluarga pak Ikhsan bersama keluarga kecilnya, disajikan tempat tidur yang nyaman untuk menghangatkan badan sungguh membuatku merasa Allah benar-benar sayang dengan kami.

IMG_2927
Pemandangan dari beranda rumah Pak Ikhsan – foto diambil oleh shofyan Ardiansyah

Pagi menyapa dan dari beranda rumah pak Ikhsan kamu bisa melihat langsung kaki gunung Latimojong. Ternyata perjalanan kami semalam sangat indah. Hampir sebagian pagi kami habiskan dengan memandangi keindahan alam

IMG_3134
betah berlama-lama di beranda melihat pemandangan – foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

yang kecantikannya tak pernah luntur. Rasanya saya mulai mengerti mengapa seorang pak Ikhsan lulusan sekolah seni ternama di Bandung memilih pulang dan membangun desanya. Keindahan alam memberikan rasa nyaman yang tak terhingga. Sama sekali tak ada kekhawatiran akan dunia.

 

IMG_2933
Pak Ikhsan dan Elis – foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

Padatnya agenda di hari ini, membuat kami hanya menghabiskan waktu tak cukup setengah hari di rumah pak Ikhsan. Setidaknya tujuan utama kami bersilaturahmi dengan beliau kesampaian. Silaturahmi tidak hanya dicintai Allah dan rasulnya, namun bertemu dan bercegkerama itu sungguh menambah kebahagiaan. Makanya menjalin pertemanan itu sangat candu bagiku.

Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (HR Muslim)

IMG_3157
Wartel – foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

Petualangan kembali dimulai. Setelah berpamitan dan memastikan amunisi perjalanan aman, kami bergegas berjalan menuju lokasi tempat kami mengamankan motor semalam. Di tengah perjalanan ada yang menarik. Bukan tentang sajian keindahan alam yang tiada henti, namun tentang “wartel” di atas gunung. Wartel adalah sebuah rumah kayu seukuran pos kamling yang dijadikan warga untuk bisa saling berkomunikasi menggunakan telepon genggam. Seperti titik poin jaringan telepon dan hanya ada disitu. Sehingga warga yang ingin menghubungi kerabat via telepon harus turun dari desa dulu untuk mendapatkan jaringan. Segera kumanfaatkan wartel ini untuk menghubungi kerabatku sebelum menghilang lagi sejenak di tengah hutan gunung.

Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju tempat longsor semalam dan juga tempat kami menyimpan motor ternyata cukup jauh. Namun suguhan keindahan alam tiada henti yang terlihat di siang

IMG_3182
Burung Elang – foto diambil oleh shofyan ardiansyah

ini sungguh menutupi rasa lelah. Bahkan saya bisa melihat burung elang yang terbang dengan jarak yang sangat jelas. Beruntung ketika kami tiba, masyarakat desa ternyata telah membersihkan bekas longsor semalam sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Sayangnya itu tidak mengurangi dinamika perjalanan kami. Sekali lagi kami diingatkan olehNya bahwa ajal itu sangat dekat.

12722283_1251292484886205_1711416059_oMotor kami terpleset lagi. Berbeda dengan jatuh dari motor sebelumnya. Motor kami tergelincir kearah jurang. Beruntung ada pagar kebun yang tepat menahan tubuh dan motor kami. Allah maha baik memberikan kami kesempatan lagi dan lagi. Kami ditolong oleh seorang anak SMP dan nenek nenek yang sedang berkebun. Bagaimana bisa seorang nenek dan anak SMP menarik saya, motor dan sofia dengan begitu mudah? Wallahualam.

Saya percaya tidak ada satupun di dunia ini yang terjadi dengan kebetulan. Begitupun dengan segala kejadian yang terjadi dalam perjalanan ini. Allah menunjukkan kebesaranNya dengan cara-cara yang tak disangka.

IMG_2982
– foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

laa hawla wa laa quwwata illa billah..

Sungguh tiada daya dan upaya melainkan pertolongan Allah

IMG_3106
Really loves your smile, Elsi. See you 🙂 – foto diambil oleh shofyan ardiansyah

Cerita Perjalanan tak selamanya tentang hal-hal menyenangkan. Tak melulu tentang keindahan ciptaanNya saja. Juga bukan ribuan selfie yang akan dibagikan di sosmed untuk menghimpun banyak like. Namun membuat kita semakin mensyukuri dan menyadari betapa kecilnya kita tanpaNya. Kemanapun kita menuju, bertemu denganNya adalah tujuan utama dari perjalanan hidup ini.

Terima kasih sudah mengajakku “berlibur” sahabatku, Shofyan aka. Shofi. Sampai jumpa dikesempatan berikutnya. Kontrak kerjamu boleh selesai, namun silaturahmi kita seterusnya. Ajak saya jalan-jalan lagi ya di Tegal.
Take Care (^^,)Y

IMG_2977
Sofie aka. Shofyan Ardiansyah, 24 Tahun. Lelaki melankolis yang merasa tampan asal tegal ini sebentar lagi meninggalkan sulawesi, yang katanya tak peduli lagi soal cinta, namun diam diam berprofesi sebagai ojek hati – Foto diambil berkali kali sampai bisa fokus olehku 😀

 

 

Menangisi Janji

Sudah berapa juta kali kamu melihatku marah?

Saya yakin bukan hal yang baru. Kamu mengenalku dengan sangat baik, memendam kekesalan bukanlah diriku. Dan sangat tersiksa rasanya tak mampu kusampaikan kekesalanku. Hari ini terjadi lagi, aku kesal pada seorang kawan.

Saya adalah orang yang tak pernah menutupi diriku. Tak ada jaim dan sebagainya. Begitupun ketika tawaran berjalan-jalan ke gunung ditawarkan padaku. Bahagia? Tentu saja. Bahkan saya rela meluangkan waktu diantara sekian banyak agenda hanya untuk memberikanmu waktu menepati janjimu.

Ini bukan tentang perjalanan denganmu. Jangan khawatir, saya tak semurahan itu mudah jatuh cinta. Saya hanya tak sabar melihat langsung keindahan alam yang bahkan sudah kureka-reka keindahannya di kepalaku.

Inilah saya.. diusia 24 tahun masih saja seperti anak kecil yang menangisi janji. Sungguh kekanakan, bukan?

Tamu Kecil

Ahad pagi ini suasana di rumah sedang sibuk-sibuknya membersihkan. Efek kemarin pagi hingga malam mengadakan acara walimahan kakak. Pekerjaan sangat banyak dan menumpuk. Meski begitu, sangat menyenangkan rasanya jika rumah ramai dengan keluarga dan bekerja sama membersihkan. Momen yang sangat jarang bisa berkumpul bersama seperti saat ini.

Saya mendapatkan bagian membersihkan rumah bagian lantai 2. Sedang asyik-asyiknya membersihkan, tiba-tiba dipanggil turun oleh adik. Katanya ada temanku yang datang. Namun karena seringnya dikerjai oleh adik, saya mengabaikan panggilan itu dan melanjutkan pekerjaan. Hingga ayah yang kemudian memanggil kembali.

“siapa yang bertamu sepagi ini?” pikirku. Kudapati seorang lelaki kecil sedang tersenyum menggunakan baju kaos putih dan celana biru selutut sedang berdiri di depan pintu rumah menungguiku. Ditangannya ia menggenggam kantongan putih yang sepertinya berat sehingga harus ia angkat dengan kedua tangannya. “Kak oni!” serunya. Lelaki kecil manis itu bernama delon, adik dari Ai’. Ai adalah anak tetanggaku yang saat ini kelas 2 SD. Ia seringkali minta diajarkan membaca Iqro setiap habis maghrib menjelang isya di masjid dekat rumah. Ia juga adalah teman pertamaku setelah pindah di kompleks baru ini.

Segera kusapa Delon dan menanyakan dimana keberadaan Ai. Ai ternyata sedang menungguiku di samping rumah sedang berdiri menatapku. Ia terlihat rapi dengan baju kaus merah dan celana jeans panjang juga topi berwarna senada dengan kausnya. Kusapa dan ia hanya tersenyum dan menolak mendekat. Delon kemudian memberikan kantongan putih yang di genggamnya padaku. “ini kakak oni, dari kampung” ucapnya lalu berlari bersama kakaknya pulang. “manis sekali adik-adikku ini” pikirku.11982375_1161557830526338_1831287113_o

Kantongan putih itu cukup berat untuk satu genggamanku. kantong putih berisi garam kasar oleh-oleh dari jeneponto khusus buatku. Ada rasa bahagia dan haru mendapatkan hadiah istimewa dari mereka. Hal-hal sederhana yang kita lakukan bisa jadi memberi pengaruh besar pada hidup seseorang. Maka teruslah bersemangat dalam hal-hal positif dan lakukan dengan senang hati.