Perjalanan MenemukanNya

Dusun Waiwai, Desa Latimojong. Bagi orang Enrekang, desa ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga mereka. Meski tak asing, tak sedikit orang yang berdarah asli Enrekang belum pernah kesana. Salah satu jalur yang dilewati bagi mereka para pendaki yang ingin menuju gunung Latimojong (salah satu gunung tertinggi di Indonesia). Beberapa orang yang kutanyai lokasi tempat tersebut memiliki jawaban yang hampir seragam, Jauh dan dingin.

Perjalanan kali ini terhitung mendadak. Tawaran ikut ke desa Waiwai ini kudapatkan dari kawanku sofia di pagi hari sebelum shalat jum’at dan rencana perjalanan akan dilakukan di sore harinya ba’da shalat ashar pada hari yang sama. Tujuannya sederhana, bersilaturahmi. Tak perlu waktu lama untuk mengiyakan. Mendengarkan tawaran itu saja, di kepalaku sudah terbayang indahnya perjalanan kami nanti.

Gunung Nona – Diambil dari google

Kabupaten Enrekang sangat kaya dengan keindahan alam pegunungannya. Allah menyempurnakan penciptaan bumi dengan memancangkan gunung-gunung sebagai pengokoh bumi dan juga sebagai keindahan serta nikmat-nikmat lainnya. Sungguh maha karya luar biasa ciptaan Allah, bagi mereka yang paham.

My Favourite Mountain, Gunung Bambapuang – Diambil di Google

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya.” (QS:Ar-Ruum | Ayat: 25).

Bercerita tentang keindahan mungkin tak akan pernah cukup tertuang dalam rangkaian kata. Namun perjalanan kali ini benar-benar menjadikanku menyadari sepenuhnya bahwa diri ini hanyalah seorang manusia sekecil-kecilnya manusia. Ajal itu dekat. Bahkan lebih dekat dari hirupan tiap nafasmu. Sebuah kesyukuran yang luar biasa bisa menuliskan perjalanan ini dan menemukan raga ini masih utuh. Hidup adalah kesempatan, pergunakanlah sebaik mungkin.

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Tepat lepas adzan shalat ashar berkumandang, kami meninggalkan kota kabupaten Enrekang menuju dusun Waiwai. Berdasarkan data Google maps, Jarak tempuh perjalanan kami sekitar 95,4 KM dari kota Enrekang ke desa Latimojong dan bisa memakan waktu 2 jam 11 menit. Namun kenyataannya, kami tiba ba’da isya sekitar pukul 9 malam (jam di hp), sekitar 6 jam perjalanan, 3x lipat dari waktu seharusnya. Justru proses perjalanan inilah yang menjadi penanda bahwa kami hanya hambaNya yang hanya mampu berencana.

dokumentasi pribadi

Perjalanan diawal sangat menyenangkan. Suguhan keindahan alam tak berhenti mencuri perhatian kami meski bukan pertama kali melewatinya. Singgah di kecamatan Baraka untuk mengisi perut dan masih bisa tertawa riang. Kesederhanaan itu membahagiakan. Begitupun hal-hal sederhana yang bisa menjadi bahan tertawaan. Menemukan tulisan okkots misalnya. “hati-hati ada pengecorang”. Bahkan singgah hanya untuk mengabadikan dan menikmati kebahagiaan kecil dari kata okkots tersebut.

Perjalanan yang ditempuh dengan motor bebek ini tidak membuat kami berpikir bahwa perbaikan jalan benar-benar akan melumpuhkan perjalanan sehingga tak bisa melewatkan sebuah motorpun. Setelah jauh menanjak, kami harus berjalan berbalik kembali kearah Baraka dan melanjutkan perjalanan melalui jalur lain. 12736665_1251292111552909_63372824_oWarna langit kemerah-merahan sudah bisa menggambarkan jika malam sudah siap menyapa. Begitupun bensin yang mulai mengkhawatirkan.

12755096_1251292154886238_1349489394_oPerjalanan yang mendebarkan dimulai. Tanjakan dan jalanan berbatu tampak seperti tak berujung. Dalam kondisi seperti ini ketika berada dalam kesulitan baru bisa bersyukur betapa kayanya diri ini, Mendapatkan jalanan dengan cor sungguh sangat membahagiakan. Sepanjang perjalanan tak terhenti lisan kami menyebut namaNya. Raga sudah sangat kelelahan namun tak ada alasan untuk mengeluh mengingat aku hanya duduk dikursi penumpang. Sedangkan sofia yang berjuang menembus perjalanan tak pernah mengeluh bahkan tak berhenti menanyakan kabar dan menguatkanku.

Tiba di desa Pasui disambut dengan mati lampu. Singgah shalat maghrib, mengisi bensin dan meluruskan badan sejenak di masjid. Kata sofia perjalanan masih memakan setengah jam lagi. Badan yang sungguh ingin merengek menjadi semangat lagi. “Tak lama lagi sampai” pikirku. Langit sudah gelap, bahkan bintangpun tak terlihat. Hati terus berharap semoga tak hujan dan cepat sampai ke dusun Waiwai.

Perjalanan yang menegangkan dimulai. Gelap, becek, jalanan menanjak dan berbatu licin kami tempuh. Motor mulai terpleset, jatuh berkali kali, turun dan berjalan kaki lebih dahulu dalam kegelapan awalnya sangat membuatku takut. Takut akan gelap dan berada ditengah hutan gunung yang terus menanjak sungguh waktu yang sangat tidak tepat untuk mengijabah satu mimpiku melakukan pendakian gunung. Sekali, dua, kali, tiga kali terjatuh dari motor membuat kami mulai terbiasa. Bahkan saya mulai berani menawarkan diri berjalan kaki dan memimpin perjalanan bermodal senter hp, karena motor hanya mampu digiring dibanding dikendarai dengan kondisi jalan seperti ini

Gelap adalah satu satunya kata yang bisa mendeskripsikan malam itu sehingga tak ada dokumentasi sama sekali. Saya pun tak pernah menyangka di atas gunung akan menemukan rumah besar yang sangat kokoh dan bagus. Kami singgah meluruskan kaki di terasnya dan bintang mulai telihat. Satu satunya objek indah adalah melihat langit. Sakit adalah kata yang paling tepat mendeskripsikan letihnya raga ini. Diri ini semakin menyadari bahwa kami bukanlah apa-apa tanpaNya. Sungguh Maha besar Allah dengan segala penciptaanNya.

12633329_1251292721552848_765905928_o
Gunung longsor – diambil di keesokan pagi

Perjalanan tak juga melunak, bahan semakin menegangkan. Jalanan berbatu, licin berbelok belok tajam dan terus menanjak membuatku lebih banyak menghabiskan perjalanan dengan berjalan kaki. Hingga tibalah kami pada satu titik perjalanan dimana pasrah adalah satu satunya pilihan. Ada gunung longsor. Pilihan hanya ada 3. Berjalan kembali, meneruskan perjalanan atau menginap di tempat kami berdiri saat ini. Memikirkan perjalanan panjang kami untuk naik ke posisi sekarang membuatku tak sanggup untuk berbalik arah. Menginap dimana? Disini? Kami tak merencanakan camping. Sedang badan ini menuntut untuk bisa berbaring. Meneruskan perjalanan dengaan berjalan kaki dan meninggalkan motor ditengah gunung ini menjadi satu satunya pilihan terbaik dari pilihan lain yang tak lebih baik. Sofia kemudian menyimpan motor di kolong rumah warga yang kosong tak berpenghuni lalu kami melanjutkan perjalanan.

12722186_1251292248219562_2012247452_o
Melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki, selfie kaki sofie – diambil oleh dirinya sendiri.
12752100_1251292654886188_1036963706_o
Air Terjun sebagai PLTA Desa Latimojong

Satu satunya sumber cahaya hanyalah cahaya senter telepon genggam kami. Bercerita banyak hal, mengurangi rasa lelah dan takut. Dunia kami hampir sama, baik dalam pergaulan dan pekerjaan. Sofia sungguh kawan yang baik. Saya tahu ia lelah, bahkan 1000x lebih lelah dariku namun tak sedikitpun keluhan terdengar dari lisannya. Hingga pada satu titik perjalanan yang mulai menurun dan terjal. Suara air sangat kencang. Ketakutan kali ini sungguh tak bisa kusembunyikan lagi, begitupun sofia. Dzikir yang tadinya kami ucapkan diam diam pun semakin terdengar. Bagaimana jika banjir? Bagaimana jika? Bagaimana jika?. Ternyata ada air terjun besar yang juga menjadi PLTA masyarakat disini. Airnya sangat kencang dan deras hingga suaranya memekakkan telinga di tengah kegelapan perjalanan ini.

12476923_1251292574886196_487515732_o
longsor berikutnya

Lagi lagi aku menanyakan sisa jarak perjalanan dan lagi lagi sofia bilang sebentar lagi. Dalam perjalanan kami, menemukan longsor berikutnya meski dengan ukuran lebih kecil. Intinya sama-sama longsor dan bahayanya sama. Yang berbeda mungkin kadar rasa takutnya karena sudah melalui ketakutan itu sebelumnya. Dalam perjalanan yang gelap, dari kejauhan kami melihat lampu sorot. Kata sofia disana sedang ada acara dan aku percaya saja. Hingga lampu sorot itu kemudian menyorot tepat pada kami. Mungkin seperti ini perasaan orang-orang orang yang tersesat dihutan lalu ditemukan yang seperti yang biasa kulihat di film-film. Lega, takut dan ingin berteriak melambai-lambai lalu menunggu helikopter menjemput.

IMG_2922
Pak Ikhsan dan elsi, menyambut kami dalam kegelapan – foto diambil oleh shofyan ardiansyah
12752179_1251292264886227_1250466854_o
sumber pencahayaan di rumah pak Ikhsan dengan menggunakan kapas bekas dan sisa minyak goreng yang dibakar

Kakiku sudah mulai gemetar. Tak bisa lagi kusembunyikan kelelahanku pada sofia. Beruntung pada saat yang sama handphone kami mendapatkan jaringan dan bermodal baterai yang sekarat, segera kami menelpon pak Ikhsan (keluarga yang ingin kami kunjungi). Bersyukur beliau belum tidur dan turut mengkhawatirkan kami. Kali ini sofia benar, kami sudah dekat dan tibalah kami pada rumah panggung pak Ikhsan. Disambut hangat oleh keluarga pak Ikhsan bersama keluarga kecilnya, disajikan tempat tidur yang nyaman untuk menghangatkan badan sungguh membuatku merasa Allah benar-benar sayang dengan kami.

IMG_2927
Pemandangan dari beranda rumah Pak Ikhsan – foto diambil oleh shofyan Ardiansyah

Pagi menyapa dan dari beranda rumah pak Ikhsan kamu bisa melihat langsung kaki gunung Latimojong. Ternyata perjalanan kami semalam sangat indah. Hampir sebagian pagi kami habiskan dengan memandangi keindahan alam

IMG_3134
betah berlama-lama di beranda melihat pemandangan – foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

yang kecantikannya tak pernah luntur. Rasanya saya mulai mengerti mengapa seorang pak Ikhsan lulusan sekolah seni ternama di Bandung memilih pulang dan membangun desanya. Keindahan alam memberikan rasa nyaman yang tak terhingga. Sama sekali tak ada kekhawatiran akan dunia.

 

IMG_2933
Pak Ikhsan dan Elis – foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

Padatnya agenda di hari ini, membuat kami hanya menghabiskan waktu tak cukup setengah hari di rumah pak Ikhsan. Setidaknya tujuan utama kami bersilaturahmi dengan beliau kesampaian. Silaturahmi tidak hanya dicintai Allah dan rasulnya, namun bertemu dan bercegkerama itu sungguh menambah kebahagiaan. Makanya menjalin pertemanan itu sangat candu bagiku.

Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (HR Muslim)

IMG_3157
Wartel – foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

Petualangan kembali dimulai. Setelah berpamitan dan memastikan amunisi perjalanan aman, kami bergegas berjalan menuju lokasi tempat kami mengamankan motor semalam. Di tengah perjalanan ada yang menarik. Bukan tentang sajian keindahan alam yang tiada henti, namun tentang “wartel” di atas gunung. Wartel adalah sebuah rumah kayu seukuran pos kamling yang dijadikan warga untuk bisa saling berkomunikasi menggunakan telepon genggam. Seperti titik poin jaringan telepon dan hanya ada disitu. Sehingga warga yang ingin menghubungi kerabat via telepon harus turun dari desa dulu untuk mendapatkan jaringan. Segera kumanfaatkan wartel ini untuk menghubungi kerabatku sebelum menghilang lagi sejenak di tengah hutan gunung.

Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju tempat longsor semalam dan juga tempat kami menyimpan motor ternyata cukup jauh. Namun suguhan keindahan alam tiada henti yang terlihat di siang

IMG_3182
Burung Elang – foto diambil oleh shofyan ardiansyah

ini sungguh menutupi rasa lelah. Bahkan saya bisa melihat burung elang yang terbang dengan jarak yang sangat jelas. Beruntung ketika kami tiba, masyarakat desa ternyata telah membersihkan bekas longsor semalam sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Sayangnya itu tidak mengurangi dinamika perjalanan kami. Sekali lagi kami diingatkan olehNya bahwa ajal itu sangat dekat.

12722283_1251292484886205_1711416059_oMotor kami terpleset lagi. Berbeda dengan jatuh dari motor sebelumnya. Motor kami tergelincir kearah jurang. Beruntung ada pagar kebun yang tepat menahan tubuh dan motor kami. Allah maha baik memberikan kami kesempatan lagi dan lagi. Kami ditolong oleh seorang anak SMP dan nenek nenek yang sedang berkebun. Bagaimana bisa seorang nenek dan anak SMP menarik saya, motor dan sofia dengan begitu mudah? Wallahualam.

Saya percaya tidak ada satupun di dunia ini yang terjadi dengan kebetulan. Begitupun dengan segala kejadian yang terjadi dalam perjalanan ini. Allah menunjukkan kebesaranNya dengan cara-cara yang tak disangka.

IMG_2982
– foto diambil oleh Shofyan Ardiansyah

laa hawla wa laa quwwata illa billah..

Sungguh tiada daya dan upaya melainkan pertolongan Allah

IMG_3106
Really loves your smile, Elsi. See you 🙂 – foto diambil oleh shofyan ardiansyah

Cerita Perjalanan tak selamanya tentang hal-hal menyenangkan. Tak melulu tentang keindahan ciptaanNya saja. Juga bukan ribuan selfie yang akan dibagikan di sosmed untuk menghimpun banyak like. Namun membuat kita semakin mensyukuri dan menyadari betapa kecilnya kita tanpaNya. Kemanapun kita menuju, bertemu denganNya adalah tujuan utama dari perjalanan hidup ini.

Terima kasih sudah mengajakku “berlibur” sahabatku, Shofyan aka. Shofi. Sampai jumpa dikesempatan berikutnya. Kontrak kerjamu boleh selesai, namun silaturahmi kita seterusnya. Ajak saya jalan-jalan lagi ya di Tegal.
Take Care (^^,)Y

IMG_2977
Sofie aka. Shofyan Ardiansyah, 24 Tahun. Lelaki melankolis yang merasa tampan asal tegal ini sebentar lagi meninggalkan sulawesi, yang katanya tak peduli lagi soal cinta, namun diam diam berprofesi sebagai ojek hati – Foto diambil berkali kali sampai bisa fokus olehku 😀

 

 

Penulis: Fany

A Beautifull mind^^

3 tanggapan untuk “Perjalanan MenemukanNya”

  1. Jadi pengen kenalan sama Sofie.
    Gaya bercerita Fany sudah mulai berkembang. Kelima pancaindera sudah diikutsertakan.
    Hanya butuh kembali mengingat materi penulisan di (kata tempat) seharusnya pakai spasi. Gunakan huruf kapital saat menuliskan nama orang, kata tempat seperti Kecamatan Blablabla.
    Ditunggu tulisan selanjutnya.

  2. Keren tulisannya. Bisa dipotong-potong jadi beberapa tulisan sih sebenarnya. Itu foto jalan yang ngeblur banget asli lucu. Dimasukkan juga ditulisan ini. Hahaha..

    – tanpa nama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s