9 Hours with Mr.Stranger

Pernahkah kamu menduga duga siapa yang akan duduk disampingmu ketika memesan tiket transportasi umum, entah itu menggunakan pesawat maupun kereta? Tentu saja jika tak pergi sendirian, tapi bagaimana jika sendirian? Bisakah kita memilih yang cantik, ganteng, baik, pengertian dan rajin menabung yang duduk disampingmu?  Ahahhaha ada ada saja.

Seperti kejutan dari perjalanan kali ini. Tak pernah memikirkan tentang siapa sosok yang akan duduk disampingku. Dan kali ini, kehadiranmu seperti jackpot dalam perjalananku.

……

Hari ini aku sudah harus kembali ke rantau melanjutkan tugas negara. Segala persiapan sudah di persiapkan, namun tidak dengan tiket. Malam sebelum keberangkatan, aku masih menghabiskan waktu bersama keluarga. Yang memesankan tiketpun adalah kakak. Permintaanku hanya satu saat itu, pilihin kursi dekat jendela. Terserah mau di gerbong yang mana. Yang penting sampai jogja dengan selamat. Maka dapatlah kursi cantik itu di gerbong terakhir.

Setelah drama menanti kereta yang panjang, panas dan ramai. Tibalah di gerbong terakhir itu. Jauh pikirku. Tapi ya sudahlah. Aku hanya ingin segera duduk. “Siapa suruh belanjaannya banyak jadi berat” keluhku saat itu. Setelah mengecek tiket berkali kali dan memastikan lagi, kulihat ada seseorang yang duduk di kursiku. Dan itu kamu. Mr. Stranger. Sebut saja ia begitu.

Awalnya biasa saja. Setelah mengkonfirmasi seperti umumnya, kamu bergeser bahkan membantuku mengangkat barang. First impressionku “wah.. Perdana sebangku dengan cowok oke nih (oke versiku, berkacamata dan brewok tipis seperti baru di cukur, ketika senyum ada lesung pipit tipis di sebalah kanan). Yelah yelah fan.. kayak anak remaja saja.

Maka duduklah aku dengan tenang ditempatku. Disampingmu selama 8-9 jam ke depan. Kamu mulai menyapa ketika kereta mulai bergerak. Menanyakan tujuan dan latar belakang aktivitasku. Aku yang biasanya segera tertidur, dengan seadanya meresponmu dan mencoba untuk tetap ramah. Tapi tak berniat untuk menanyakan sesuatu. Hingga akhirnya aku mulai menyalakan laptop dan berniat menonton drama korea. Tak enak hati, kucoba basa basi menawarkanmu. Kaget karena malah direspon setuju olehmu. Saat itu dalam hati aku menyesal telah menawarkan padamu. ahahaha.. perempuan memang membingungkan. Makanya aku tak berminat pada perempuan. wkwkwk..

Seraya memilih milih film dan kesalku lagi karena terburu buru dowloadnya sebelum berangkat, kualitas filmnya gak bagus, gambar di layar pecah seperti masa laluku *eits.. Mr.stranger dengan jujurnya turut memprotes kualitas gambarnya dan aku hanya haha hihi saja sambil tetap menonton. Entah saat itu kamu tak tertarik dengan filmnya, atau apapun, aku g mau berpikir terlalu banyak. Akhirnya kamu mulai bercerita tentang dirimu meski tak kutanyakan. Saat itu aku sempat berpikir, “cerewet bgt cow ini“. Tapi sungguh itu persepsi awalku saja. Keterbukaanmu sangat menarik. Kita baru mengenal dan kamu bercerita segalanya tentangmu.

Aku bahkan tak punya ruang untuk tertidur. Setiap pamit mau tidur, ia selalu melarang. “jangan tidur, lagi berapa jam kita pisah”. Iya, perjalananku hanya sampai di Yogyakarta dan kamu masih harus melanjutkan ke surabaya tempatmu bertugas. Aku tergilik mendengar kata itu. Ini orang sungguh menggemaskan. Tapi dari dalam hati ada perasaan senang mendengarnya. Kenapa ya? Pikirku. Apa karena sudah lama tidak membuka hubungan baru?  Hubungan serius terakhirku dengan lawan jenis sekitar 8 tahun lalu. Terlebih lingkup kerjaku yang lebih banyak menghadapi kaum sejeninsku? Sehingga untuk hal manja sekecil ini bisa membuatku deg-degan?

Selama perjalanan ia bercerita banyak hal dan bahkan memposisikan duduknya menghadapku yang saat itu disampingnya. Hanya untuk memastikan aku tidak tidur. Beberapa kali kita saling menegur untuk mengecilkan suara kita saat bercerita dan tertawa lepas. Sambil mendengar dan tertawa, aku terus berpikir betapa lucunya pertemuan ini. Meski dari sebagian besar ceritamu banyak yang tak aku sepakati. Sungguh latar belakang dan dunia kita berbeda.

Kamu sempat menawarkan tuk meminta sosial mediaku, aku menolak. Entah mengapa saat itu aku berpikir untuk tidak memberikan sama sekali kontakku. Seperti pertemuan kita yang tak diduga, aku masih menganggapmu orang asing. Satu hal yang kuperhatikan darimu, kamu tak pernah memaksakan diri dan menghormati penolakan-penolakan yang kuminta. Lalu dengan santainya dan tak ada yang salah dengan itu, kamu meminta tiket perjalananku saat itu. Dengan modal stabilo (yang kutemukan di laci tas terdepan dan karena aku males mencarikanmu pulpen), kamu membubuhi tanda tanganmu dan tanda tanganku serta tanggal pertemuan kita. Dengan ucapan manis dibibirmu kala itu “disimpan ya, siapa tau kita ketemu lagi, mungkin kamu yang aku cari”. Aku hanya terdiam dan menjawab singkat “oke”. Kata sederhana yang berhasil membuatku tersenyum setiap kali mengingatnya.

Diam diam aku bersyukur karena bisa menikmati lagi rasa cinta. Fitrah sebagai manusia. Namun, bahagia itu lebih banyak kuhabiskan dengan penyesalan. Aku rindu pada orang asing itu. Iya, orang asing yang kurindukan. Orang asing yang benar benar asing. Bahkan google pun tak membantuku untuk menemukanmu setelah pertemuan itu.

 

Penulis: Fany

A Beautifull mind^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s