Tangan Kecil Pemilik Busur

Sama seperti 3 pertemuan sebelumnya, kini masuk ke dalam kelas mendampingi adik adik tuk belajar menulis, mengenali penggunaan huruf dan membasmi okkots sudah menjadi aktivitas rutinku 2x dalam sebulan dalam program Sobat lemina #Donasi2jam #MenulisBarengSobat.

Kali ini tema pertemuan adalah “baju kesayanganku”. Ada yang menarik dari pertemuan kali ini, selain cerita adik-adik tentang baju kesayangannya, seorang adik berhasil menarik perhatianku ketika ia memasukkan cerita tentang busur kepunyaannya. 3 baris tulisan dibagian akhir adalah bagian yang paling menarik perhatianku..

saya selalu terlambat pulang dan selalu dipukul, dan saya selalu bermain busur

Menariknya, adik ini penuh senyuman saat membacakan ceritanya di depan kelas. Setelah membacakan ceritanya didepan, saya mengikutinya dan duduk disampingnya saat teman-temannya yang lain secara bergantian menceritakan tulisan mereka di depan kelas.

dimana dapat busur de? siapa kasiki‘? tanyaku. ku buat sendiri ini kak, ini paku toh kak di tumbuk-tumbuki supaya lancip ki ” jawabnya. “Untuk apa busurnya?” tanyaku lagi. “untuk jaga jagaji kak” jawabnya dengan penuh senyum.

10370772_858075677541223_861668274_nSaat berbicara pada adik ini, beberapa temannya ikut bergabung dan menjawab bahkan mengejekinya. “ededeh, mau na pake perang itu kak, Preman memang itu kak, anak tukang becak” sahut salah seorang temannya. “we kenapako? jangko suka calla-calla orang, perbaiki perbaiki mi dulu itu mukamu S******A!” jawab adik ini. Kaget dengan apa yang kudengar berlangsung, segera kupisahkan mereka. Ini kali pertama saya melihat langsung busur, selama ini saya hanya menyaksikannya di televisi dalam berita kriminal sebagai senjata para geng motor. Tak kusangka akan melihatnya langsung dari tangan kecil adikku ini.

Saya mencoba untuk mengingat kembali sejak pertamakali masuk dikelas ini. Adik ini ketika diawal pertemuan, saya mendapatinya memeluk kepalanya di mejanya, katanya kepalanya sakit sehingga saya menyuruhnya beristirahat (ia duduk di kursi paling belakang bagian kanan seorang diri, ketika ingin memasukkannya di kelompok barisan yang lain waktu itu, banyak teman-temannya menolaknya). Ekspresi wajahnya sayu dengan lingkaran hitam mata panda seperti sering begadang. Saat bermain kuis, ia selalu berusaha menjawab meski selalu terlambat mengangkat tangan. saya ingat sekali ketika ia berhasil menjawab dan benar, ia terlihat sangat senang dengan senyuman yang lebar.

Latar belakang lingkungan bergaulnya dan pola asuh orangtua jelas mempengaruhi cara ia berperilaku. Mencoba menyimpulkan dari tulisannya tentang senangnya ia begadang diluar dan pulang larut lalu dipukul oleh orangtua dan berrmain membuat busur, ditambah perkataan temannya yang mengatakan “preman memang itu kak, anaknya tukang becak” menggambarkan sedikit background kehidupan adik ini.

“Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresif mereka secara alami terbentuk (Byod Mc Cendles dalam Rita, 2005)”.

Adik ini memang salah satu adik yang susah diatur, selalu menggangu dan terbiasa mencela. Namun ia selalu berusaha menjawab dan selalu bertanya ketika ada yang tak diketahuinya dan yang paling menarik adalah ia selalu tersenyum sambil berdiri dan mengangkat tangan kanannya ketika diberi kesempatan menjawab meski jawabannya salah.

Sobur (1987) mengemukakan bahwa dalam menanggapi sikap agresif anak-anak, kita perlu melacak dua macam jalan keluarnya. Pertama, bagaimana mengurangi sikap agresifnya pada saat ini. Sedangkan jalan keluar yang lebih berjangka panjang adalah mencegah timbulnya sikap agresif dimasa yang akan datang. Apapun yang dipilih untuk menyalurkan dorongan agresifnya ini, tetap berarti bahwa dorongan agresif itu sendiri harus disalurkan dengan sebaik-baiknya.

Kehadiran kami 2x pertemuan dalam sebulan tentu tidak cukup, namun dengan melakukan pendekatan dengan melakukan kegiatan menulis bersama. Kemudian berusaha memberi contoh yang baik dengan memberi pujian disetiap keberanian dan semangat mereka bisa meningkatkan rasa percaya diri sehingga dapat membuat masing-masing adik merasa spesial.

Sumber:

Ezzaty, Eka Rita. 2005. Mengenali Permasalahan Perkembangan Anak Usia TK. Jakarta ; Depdiknas

Sobur, Alex. 1987. Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Perbedaan Pria dan Wanita

Otak pria dan wanita memang berbeda secara anatomi, hormon, dan fisiologis. Perbedaan mendasar inilah yang menyebabkan cara berpikir, cara merasa, dan cara berperilaku yang berbeda. Perbedaan tersebut antara lain :

1.      Proses informasi

Mengutip dari crosswalk, pria memiliki kemampuan yang sangat sistematis, dirinya mampu untuk menggolongkan sesuatu. Namun terkadang ia cenderung bersaing dengan pria lainnya, orientasi relasionalnya rendah, serta hanya dapat fokus pada satu pekerjaan.

Sementara wanita cenderung lebih mampu melakukan pekerjaan yang tidak saling berhubungan secara bersamaan. Orientasi relasinya tinggi, dan cenderung bekerja sama dengan sesamanya. Namun, wanita memiliki kemampuan rendah dalam membuat sistematika.

 2.      Cara berkomunikasi

Saat sedang berkumpul dengan teman-temannya percakapan pria berfokus pada fakta, berbicara langsung, lebih banyak membicarakan tentang seks dan olahraga. Hal ini dipengaruhi oleh penggunaan otak kiri pada pria. Sedangkan wanita lebih menekankan perasaan di balik fakta yang ada.

 Wanita menggunakan seluruh kumpulan sarafnya untuk memaksimalkan otak kiri dan kanannya (corpus collosum). Hal inilah yang membuat wanita lebih banya berbicara dibanding pria. Dalam sebuah penelitian, wanita mampu menggunakan 20.000 kata per hari sementara pria hanya 7.000 kata.

3. Seks

Bagian ini dalam otak pria, adalah bagian yang paling besar. Pria berorientasi pada fisik, oleh karena itu ia mudah dirangsang oleh gambar dan penglihatannya. Tak hanya itu, dengan mudah pria dapat memulai seks kapan saja dan di mana saja. Dirinya juga cepat merespons seks dan tidak mudah mengalihkan perhatiannya.Bagian seks dalam otak wanita tidak sebesar wilayah pada otak pria. Wanita berorientasi pada relasional, cenderung menggunakan perasaan, bau-bauan, sentuhan, dan kata-kata. Dalam kondisi intimnya, dirinya jangan untuk memulai bercinta, lambat merespons, serta perhatiannya mudah teralihkan.

5.      Pengambilan keputusan

Pria berorientasi pada penyelesaian masalah, namun terkadang cenderung ingin melupakan masalah sendiri dengan melihat masalah orang lain. Seorang pria mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dalam buku Doctors, Market Yourself pengambilan keputusan yang pria dilakukan mengikuti jalan yang sederhana. Caranya dengan mengambil jalan lurus mengikuti fase yang telah ada tanpa memutar. Hal ini dikarenakan tujuan meraka hanyalah untuk mencari sebuah solusi.

Beda halnya dengan wanita, mereka memiliki misi untuk mencari jawaban yang sempurna. Wanita lebih cenderung maju untuk mengambil keputusan. Namun, hanya dalam beberapa siklus saja, terkadang pikirannya melompat kembali pada proses sebelumnya, baru kemudian mempertimbangkan keputusannya dengan menggabungkan informasi baru. Oleh karena itu, dalam upaya penyelesaian masalah, wanita cenderung masih membutuhkan bantuan orang lain

6. Emosi

Pria tidak mudah untuk mengungkapkan perasaan meraka kepada orang lain. Hormon serotonin dan oksitosin dalam otak pria yang lebih sedikit dari wanita cenderung memengaruhi biologis otak pria. Maka dari itu, dalam bertindak pria lebih dulu bertindak sebelum bicara. Hal inilah yang menjadikan pria kerap naik pitam.

Sementara wanita cenderung empatik, lebih sensitif ketimbang pria. Pada dasarnya wanita memiliki kepekaan lebih daripada pria. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah penelitian, bahwa rata-rata wanita memiliki sistem limbik lebih besar yang memiliki ikatan lebih baik dengang oran lain. Steadyhealth menyebut wanita lebih rentan terhadap depresi, terutama selama masa pubertas, sebelum haid, setelah melahirkan, dan saat menopause.

Referensi :

Anonim. 2012. Mengungkap perbedaan pola pikir pria dan wanita (online), (http://www.cari-info.blogspot.com) diakses pada 19 september 2012.

Identifikasi Anak Berbakat

Identifikasi adalah sebuah proses mengenali anak yg memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, sehingga diperlukan layanan berdiferensiasi agar anak yang telah diidentifikasi dapat berkembang secara penuh sesuai potensi yang dimilikinya. Identifikasi anak berbakat bertujuan untuk menemukan anak-anak yang berbakat dan membantu mereka mengoptimalkan potensi unggulnya sehingga dapat menjadi prestasi unggul.

Lohman (Hallahan, Kauffman, Pullen, 2012) mengemukakan bahwa mengukur keberbakatan adalah sebuah perkara yang kompleks. Hallahan, Kauffman, Pullen (2012) mengemukakan bahwa identifikasi merupakan proses untuk membantu anak dengan kemampuan special untuk mengembangkan diri, sehingga dapat mengenbangkan potensi serta dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat.

Proses identifikasi anak berbakat merupakan pengembangan dari ciri atau karakteristik yang telah ditemukan, dengan demikian diharapkan dapat memperlancar usaha penemuan dan penempatan anak berbakat. Hal tersebut sangat membantu dalam menetapkan kebutuhan pendidikan anak berbakat. Mengidentifikasi anak berbakat bukanlah hal yang mudah. Oleh karena banyak anak-anak berbakat di sekolah tidak menampakkan bakat mereka dan tidak dipupuk. Banyak di antara mereka berasal dari golongan ekonomi rendah, mengalami masalah emosional yang menyamarkan kemampuan intelektualnya atau subkultur yang menekan kemampuan bicara.

Pendekatan dimensi ganda dalam memahami keberbakatan menimbulkan masalah tersendiri dalam identifikasi anak berbakat, baik mengenai kriteria keberbakatan maupun teknik dan alat identifikasi. Apabila ditelaah kembali ternyata karakteristik tersebut erat sekali kaitannya dengan kemampuan intelektual, oleh karena itu merupakan hal yang logis jika identifikasi anak berbakat diawali dengan pengujian kemampuan intelektual (http://choirulfahmie.wordpress.com). Proses awal identifikasi yang lazim digunakan adalah menggunakan tes inteligensi namun cara ini dianggap memakan biaya, waktu dan tenaga. Untuk itu ada cara lain yang dianjurkan adalah cara metode majemuk yang merupakan kombinasi dari penggunaan tes inteligensi dengan observasi dan studi kasus yang diperoleh dari sumber-sumber di sekitar anak.

Langkah pertama dalam pengenalan anak berbakat adalah menentukan alasan atau sebab untuk mencari mereka. Jika kita memilih kelompok matematika maka pendekatan akan berlainan bila mencari siswa yang mempunyai keterampilan menulis kreatif atau untuk kemampuan seni pementasan atau kepemimpinan.

Alat-alat yang digunakan dalam identifikasi berfokus pada beberapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Kirk (1986), yaitu kelancaran (kemampuan untuk memberikan jawaban bagi pertanyaan yang diberikan), kelenturan (kemampuan untuk memberikan berbagai macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons yang lain), dan kemurnian (kemampuan untuk memberikan respons yang unik dan layak). Namun, hal-hal yang ditemukan oleh guru, orang tua, perlu dicek dengan tes standar dan pengukuran kemampuan objektif lainnya oleh para ahli dalam bidang tersebut.

Proses identifikasi yang adil dan diharapkan dapat menemukan anak-anak dengan kemmapuan special harus dinamik dan berkelanjutan, dapat digunakan untuk identifikasi pada berbagai tahapan perkembangan anak, dapat digunakan bagi yang memiliki talenta tinggi, yakin bahwa identitas siswa yang disadvantaged dan kelompok yang secara budaya berbeda tidak terabaikan.

Renzulli dkk.., (Carr, 2005) mengemukakan bahwa identifikasi anak berbakat harus mewakili kawasan-kawasan kemampuan intelektual umum (kemampuan umum yang diukur dengan tes inteligensi atau tes bakat khusus untuk domain seperti kemampuan matematika, bakat musik atau patung), komitmen tingkat tinggi dan motivasi untuk mengembangkan keterampilan dalam domain yang tinggi  kemampuan., dan kreativitas dalam domain kemampuan tinggi. Menurutnya kinerja individu secara khusus dipengaruhi oleh motivasi yang muncul dalam menyelesaikan tugasnya dan ketiga dimensi itu saling berhubungan. Prosedur identifikasi dengan sendirinya memperhatikan faktor intelektual dan non intelektual. Pendekatan Renzulli tersebut penting karena dapat membedakan anak-anak berbakat dari anak-anak yang berkemampuan rata-rata terutama dilihat dari faktor motivasi dan kreativitas.

Renzulli (Carr, 2005) menjelaskan keberbakatan didasarkan pada model hirarkis inteligensi. Model tersebut berakar pada karya Spearman dan Thurstone. Menggunakan analisis faktor, Spearman meneliti pola hubungan antara besar jumlah berbagai jenis tes kemampuan yang diberikan kepada sampel besar orang. Thurstone menggunakan berbagai tes dan metode yang sedikit berbeda dan menemukan satu set tujuh faktor independen yang ia sebut kemampuan mental primer, yaitu kemampuan verbal; kelancaran verbal, numerikal, kemampuan spasial, kecepatan persepsi, induksi, dan memori. Renzulli menyimpulkan bahwa anak-anak berbakat mungkin memiliki nilai tinggi pada kemampuan intelektual umum dan atau skor rendah pada hirarki kreativitas dan komitmen tugas.

  1. Proses identifikasi anak berbakat

Wahab (tanpa tahun) mengungkapkan bahwa prosedur yang digunakan dalam proses identifikasi bersifat nondiskriminatif dikaitkan dengan ras, latar belakang ekonomik, suku, dan kondisi kecacatan. Ada dua langkah penting dalam identifikasi anak berbakat, yaitu:

1. Penjaringan (Screening)

  • Nominasi guru

Observasi guru memungkinkan evaluasi perkembangan sepanjang waktu. Guru dapat mempertimbangkan cara siswa memecahkan masalah, seperti juga mempertimbangkan jawabannya. Guru-guru dapat juga melihat cara siswa menggunakan waktunya, dan cara beberapa indikator keberbakatan yang telah dikutip untuk diterapkannya. Siswa  diminta menjawab siapa yang paling pintar dan paling membantu di antara mereka dapat membantu guru dalam melakukan identifkasi.

  • Nominasi orangtua

Orangtua dapat memungkinkan pemberian rekomendasi berdasarkan pengamatannya yang lama terhadap bakat yang dimiliki anak. Berkaitan dengan hal tersebut, orangtua dapat memperhatikan tingkat penguasaan anak dalam tugas intelektual dan minat dan keingintahuan yang bervariasi. Pada kenyataannya, menyuruh orangtua untuk mempertimbangkan bakat anak adalah suatu cara yang baik untuk melibatkan orangtua dalam memberikan informasi yang sangat berharga bagi pemahaman anak yang lebih komprehensif.

  • Nominasi teman sebaya (peer nomination)

Penunjukkan teman sebaya dapat memberikan informasi tentang keunggulan anak berbakat dalam sekolah, baik berkenaan dengan keunggulan bidang akademik maupun bidang non-akademik, terutama kemampuan anak memecahkan masalah, kemampuan kepemimpinan, dan sikap kejujuran anak.

  • Prestasi akademik anak

Posisi anak pada saat diidentifikasi memiliki nilai informasi yang sangat penting, terutama berkenaan dengan kedudukan prestasi terakhir siswa, di samping sejarah prestasi akademiknya, maupun non akademiknya yang sangat terkait dengan keunggulan anak dalam kinerjanya.

  • Portofolio

Kemajuan sepanjang waktu, yang disertai dengan prestasi keseluruhannya, dapat dinilai oleh pemantau bahan-bahan yang tersimpan dalam portofolionya. Hal tersebut memungkinkan evaluasi dalam berbagai bidang, seperti belajar yang memiliki gaya tertentu dan penggunaan pengetahuan. Portofolio juga memungkinkan kegiatan asessmen kreativitas siswa melalui unjuk kinerja dalam berbagai even yang telah terdokumentasikan. Untuk membantu dalam membakukan evaluasi portofolio, sekolah dapat mengembangkan suatu daftar kriteria untuk dipertimbangkan, seperti: kompleksitas penyajian.

  • Produk kerja atau kinerja yang bagus sekali

Selama dalam sejarah kehidupan anak, perlu terus ditelusuri produk-produk karya siswa berbakat, baik yang dihasilkan secara voluntir maupun hasil lomba, yang dibuktikan dengan piala atau piagam penghargaan. Karya-karya mereka dapat didokumentasikan dengan baik, sehingga dapat dijadikan bukti sebagai karya-karya yang berprestasi untuk melengkapi bukti-bukti lainnya.

  • Observasi

Pengamatan terhadap perilaku anak berbakat, baik dalam kelas, maupun di luar kelas, terutama berkenaan dengan perilaku-perilaku yang menunjukkan kinerja baik sebagai pribadi maupun anggota kelompok, keluarga, atau masyarakat. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh konselor atau wali kelas yang memang bertanggung jawab dalam mendampingi kehidupan anak di sekolah

  • Mereviu catatan siswa

Siswa biasanya memiliki catatan pribadi. Melalui cara ini, dapat dilihat bagaimana catatan pribadi siswa tentang kegiatan di luar sekolah, misalnya, keanggotaan dalam suatu drama club, peran dalam kegiatan keluarga, dan serta peran di masyarakat. Yang juga sangat penting adala. Bagaimana dengan konsistensi prestasi di sekolah.

  •  Tes kelompok (group test).

Tes kelompok dilakukan untuk menambah informasi tentang anak, baik berkenaan dengan informasi inteligensi maupun bakat skolastik dan prestasi belajarnya, sehingga perlu dilakukan tes inteligensi, tes bakat skolastik, maupun tes prestasi belajar.

2.      Assesment

Berdasarkan hasil screening, maka selanjutnya dilakukan assessment baik terkait dengan kemampuan kecerdasan umum, bakat skolastik dan bakat lainnya, maupun tingkat kreativitas dan komitmen akan tugas. Assessmen dilakukan dengan mengunakan tes dan instrumen terstandar, di antaranya digunakan tes inteligensi, tes bakat skolastik, tes bakat, tes kreativitas, dan inventori komitmen akan tugas. Sebagian besar tes tersebut lebih bersifat individual.

  1. Petunjuk identifikasi
    1. Instrumen harus reliabel dan valid sesuai konstruk keberbakatan.
    2. Instrumen harus bebas budaya.
    3. Gunakan multi metode atau multi pendekatan.
    4. Matrik yg mereduksi data jamak ke dalam skor tunggal – tidak tepat.
    5. Siswa harus diidentifikasi dan ditempatkan sesuai kebutuhan dan kemampuannya, lebih dari jumlah siswa yang dapat dilayani oleh suatu program.
  2. Identifikasi anak berbakat dapat berupa
    1. Observasi dan asesmen guru dengan menggunakan kriteria yang cocok.
    2. Keterlibatan dan prestasi dalam kompetisi.
    3. Prestasi dalam kegiatan ektrakurikuler.
    4. Nominasi kelompok sebaya
    5. Nominasi lembaga atau pihak eksternal
  3. Lima prinsip dasar dari identifikasi:
    1. Defensibility yaitu prosedur harus mampu menemukan siswa dalam seluruh domain dan bidang keberbakatan (all domains of giftedness and fields of talent).
    2. Advocacy yaitu guru harus menggunakan asesmen untuk meningkatkan minat siswa dan tidak berharap memiliki kesamaan yang sama dalam sama dalam seluruh area pengukuran.
    3. Equity yaitu dapat mengidentifikasi kelompok anak berbakat yang disadvantaged.
    4. Comprehensiveness yaitu menggunakan sumber data jamak.
    5. Pragmatism yaitu konsisten degan tingkat ketersediaan data.

Sumber:

Astati. (Tanpa Tahun). Pengantar pendidikan luar biasa. Modul 3.

Carr, A. (2005). Positive psychology: The science of happiness and human strengths. New York: Brunner-Routledge of Tylor & Francis Group.

Hallahan, D. P., Kauffman, J. M., & Pullen, P. C. (2012). Exceptional learners: An introduction to special education. Boston: Pearson Education, Inc.

Hawadi, L. F. (Tanpa Tahun). Identifikasi anak berbakat intelektual menurut konsep Renzulli berdasarkan nominasi oleh guru, teman sebaya, dan diri sendiri: Studi pada beberapa Sekolah Dasar Negeri dan Swasta di wilayah DKI Jakarta. Disertasi, tidak diterbitkan. Diunduh di http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=90842, pada tanggal 21 September 2012.

http://choirulfahmie.wordpress.com, diunduh pada tanggal 21 September 2012.

Ormrod, J. E. (2009). Psikologi pendidikan:Membantu siswa tumbuh dan berkembang, Jilid 1.Alih bahasa: Wahyu I., Eva. S., Airin Y.S., & Puji, L. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, J. W. 2007. Psikologi pendidikan. Alih bahasa: Tri Wibowo B.S. Edisi kedua. Jakarta: Kencana.

Wahab, R. (Tanpa Tahun). Mengenal anak berbakat akademik dan upaya mengidentifikasinya. Makalah, tidak diterbitkan.

Sedang Apa dan Dimana …

sedang apa dan dimana.. dirimu yang dulu kucinta.. ku tak tahu.. tak lagi tahu.. seperti waktu dulu..”

sejenak aku mengingat kembali masa-masa dulu dengan kamu.. kamu dan kamu.. sedang apa kamu sekarang ? ada dimana kamu sekarang ? masih ingatkah kamu tentangku ? tentang kita ?

beberapa hari yang lalu, tak sengaja seseorang menampilkan fotonya.. didalam foto itu ada kamu.. kamu dan kamu.. diantara kalian. yah.. dari semua sosok yang ada, aku hanya tertarik dengan sosok dipojok itu.. terlihat sangat segar dalam balutan merah..

kamu dimana sekarang …
baik-baik saja kah ?

hey, aku rindu !
rindu masa kebersamaan kita.. meski ku tahu waktu takkan berulang kembali dan aku sudah tak ingin lagi mengulangnya..
banyak skali cerita tentang kita..
sejenak kusadari, banyak skali partikel-partikel tentangmu disekitarku.
hanya bisa tersenyum.. kau telah memberikan banyak pelajaran berharga padaku..

TERIMA KASIH pernah hadir dihidupku
untukmu yang PERNAH ku cinta…

Laporan Psikologi Eksperimen^^

Pengukuran dalam Psikologi

Pengukuran adalah suatu prosedur pemberian angka (kuantifikasi) terhadap atribut atau variabel sepanjang suatu kontinum. Dalam pengukuran terdapat dua kontinum, yakni kontinum fisik yaitu berbagai kontinum seperti kontinum berat, kontinum kecepatan, kontinum tinggi, dan semacamnya, dihasilkan oleh pengukuran yang menggunakan skala fisik,  dan kontinum psikologis yaitu berbagai atribut fisik dan atribut psikologis yang dapat di ukur dengan menggunakan skala psikologis dan hasilnya dapat disajikan dalam suatu kontinum (saifuddin,2008).

Secara operasional, pengukuran merupakan suatu prosedur perbandingan antara atribut yang hendak diukur dengan alat ukurnya. Karakteristik pengukuran adalah (saifuddin,2008):

  1. Merupakan perbandingan antara atribut yang diukur dengan alat ukurnya. Artinya, apa yang diukur adalah atribut atau dimensi dari sesuatu, bukan sesuatu itu sendiri.
  2. Hasilnya dikatakan secara kuantitatif. Kuantitatif berarti berwujud angka. Suatu proses pengukuran akan dinyatakan selesai apabila hasilnya telah diwujudkan dalam bentuk angka yang biasanya –dalam pengukuran fisik disertai oleh satuan ukurnya yang sesuai. Dan begitupula dalam pengukuran aspek nonfisik atau aspek psikologis akan kita temui hasil pengukuran yang berupa angka.
  3. Hasilnya bersifat deskriptif. Artinya, hanya sebatas memberikan angka yang tidak diinterpretasikan lebih jauh.

Dalam interpretasi terhadap hasil pengukuran hanya dapat bersifat evaluatif apabila disandarkan pada suatu norma atau suatu kriteria. Norrma berarti rata-rata, yaitu harga rata-rata bagi suatu kelompok subjek. Karena hasil tes psikologi seringkali tidak memiliki satuan ukur maka perlu dinyatakan secara normatif. Dan dalam tingkat hasil pengukuran, memiliki tiga skala pengukuran (saifuddin, 2008).

  • Hasil pengukuran akan berada pada salah satu tingkat pengukuran (level of measurement) menurut kompleksitasnya. Suatu angka hasil pengukuran disebut berada pada tingkat nominal atau berskala nominal apabila angka tersebut berfungsi untuk identifikasi,  yaitu membedakan antara satu objek dengan subjek yang lain. Dan selain untuk identifikasi, angka dapat dikatakan berada pada level nominal apabila digunakan untuk klasifikasi atau kategorisasi. Pengubahan angka yang tidak mengubah fungsi identifikasi dan kategorisasi objek disebut transformasi isomorfik.
  • Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level ordinal kalau angkanya berfungsi menunjukkan adanya penjenjangan kualitatif. Adapun angka boleh berubah namun urutan objek masih tetap dinamai transformasi monotonik. Dan Ketiga, hasil ukur berskala interval adalah hasil pengukuran ordinal yang memiliki jarak antar jenjang yang tetap selalu sama. Skala ini pun tidak memiliki harga O mutlak sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa 6 adalah dua kali 3.

Wilayah pengukuran psikologis, digolong-golongkan menurut cara tertentu. Terdapat penggolongan berbagai atribut psikologis menjadi empat kelompok, yaitu :
(1) kepribadian,
(2) intelegensi,
(3) hasil belajar, dan
(4) hasil belajar.

Dan berdasarkan penggolongan tersebut maka tes psikologi digolongkan menjadi empat, yaitu :
(1) tes kepribadian,
(2) tes intelegensi,
(3) tes potensi intelektual, dan
(4) tes hasil belajar.

Terdapat beberapa kontribusi yang mempengaruhi dalam perkembangan upaya pengukuran psikologis,

  • pertama, kontribusi psikofisika yang dianggap suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan kuantitatif antara kejadian-kejadian fisik dan kejadian-kejadian psikologis.
  •  Kedua, kontribusi francis galton yang merintis penerapan metode “rating” dan kuesioner.
  • ketiga, kontribusi lainnya yaitu upaya mengembangkan metode statistik guna menganalisis data mengenai perbedaan individual. awal gerakan testing psikologis yang memiliki kontribusi penting adalah seorang ahli psikologis amerika, yaitu James McKeen Cattelyang memperkenalkan istilah “mental test” yang selanjutnya banyak digunakan dan menjadi populer. 
  • Empat, binet dan tes intelegensi memiliki kontribusi menghasilkan skala yang terkenal dengan nama skala 1905. 
  • Kelima, Testing kelompok dikembangkan karena kebutuhan yang mendesak. Tes yang dikembangkan oleh ahli psikologi dalam militer itu kemudian terkenal dengan nama Army Alpha dan Army Beta.
  • Enam, pengukuran potensi intelektual yang dirancang untuk mencakup fungsi intelektual yang luas ragamnya guna mengistemasikan taraf intelektual umum individu, namun seraya nyata bahwa liputan tes intelegensi itu sangat tebatas. Tujuh tes hasil belajar, yang dikembangkan para ahli psikologi dengan mengembangkan tes intelegensi dan tes potensi intelektual khusus. Delapan, tes projektif dikembangkan oleh kelompok psikiater dan psikolog untuk mengungkapkan isi batin yang tidak disadari.

 

Referensi : 

Azwar, Saifuddin. 2008. Dasar-Dasar Psikometri. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Subrata, s. 1991. Pengembangan alat ukur Psikologi. Yogyakarta : direktorat jenderal pendidikan tinggi departemen pendidikan psikologi.

5 Tahap perkembangan bahasa anak

Untuk mengetahui perkembangan bahasa anak-anak prasekolah ini, dapat digunakan indeks perkembangan bahasa yang dikembangkan oleh Roger Brown (1973), yang dikenal dengan Mean Length of Utterance (MLU), yaitu sebuah indek perkembangan bahasa yang didasarkan atas umlah kata dalam kalimat.

Dengan menggunakan MLU ini, Brown mengidentifikasi 5 tahap perkembangan bahasa anak (lihat tabel).

 

Tahap

Usia/Bulan

MLU

Karakteristik

Kalimat Khas

I

 

 

 

 

12 – 26

1 – 2

Perbendaharaan kata terdiri atas kata benda dan kata kerja, dengan sedikit kata sifat dan kata bantu “Dada Mama”

“Dada Papa”

“Anjing besar”

 

 

II

 

 

 

 

 

 

27 – 30

2 – 2,5

Kalimat-kalimat anak lebih kompleks, kata majemuk terbentuk, mereka menggunakan preposisi, kata kerja tak beraturan, tensisi, bentuk jamak. “Boneka tidur”

“Boneka cantik”

“Susu habis”

 

 

 

 

III

 

 

 

 

 

 

31 – 34

2,5 – 3

Muncul pertanyaan-pertanyaan “ya-tidak”, “siapa, apa, dimana”, kata-kata negatif (tidak) dan kata-kata imperatif (perintah-permohonan) digunakan. “Ayah pulang”

“Susi nggak mau susu”

 

 

 

 

IV

 

 

 

 

 

35 – 40

3 – 3,75

Perbendaharaan kata meningkat, penggunaan tata bahasa lebih konsisten, mengaitkan kalimat yang satu di dalam kalimat yang lain. “Itu mobil yang ibu beli untukku”

“Kukira itu merah”

 

V

 

 

 

 

 

 

41 – 46

3,75 – 50

 

Kalimat lebih kompleks dengan menggabungkan 2 atau lebih kalimat, kalimat-kalimat sederhana, dan hubungan-hubungan preposisi terkoordinasi.

 

“Aku ke rumah Bob dan makan es krim”

“Aku mau kelinci karena lucu”

PENERAPAN MODIFIKASI PERILAKU dalam dunia Bisnis, Industri, Pemerintahan dan Psikologi Olahraga

Latar Belakang

Watson (Ulman & Krasner, 1965) memaparkan bahwa arti modifiasi perilaku berkaitan dengan sejumlah teknik  yang berhubungan dengan pembelajaran, tapi dipelajari secara per bagian dengan kondisi yang lebih intensif. perubahan perilaku tersebut disebut dengan perawatan dan perubahan secara klinis.

Definisi lain dari modifikasi perilaku dinyatakan oleh Soekadji (1983) memaparkan bahwa secara umum modifikasi perilaku dinyatakan sebagai semua tindakan yang mengarah pada perubahan perilaku. secara khusus dijelaskan bahwa modifikasi perilaku merupakan penerapan dari penelitian perilaku yang dilakuakan dengan melakukan penelitian secara eksperimental dan ilmiah untuk mengubah perilaku manusia.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perubahan perilaku atau sering disebut dengan modifikasi perilaku adalah suatu proses untuk menolong dan melakukan perawatan pada diri individu. Hartosujono (2011) memaparkan bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip modifikasi perilaku bisa diterapkan pada bidang-bidang khusus seperti di klinik-klinik dan rumah sakit, sekolah-sekolah, organisasi-organisasi masyarakat, industri, dan lembaga yang bertujuan untuk pertumbuhan pribadi. Maka dari itu kami tertarik untuk membahas penerapan modifikasi perilaku dalam bidang bisnis, industri, pemerintahan dan psikologi olahraga lebih rinci yand didasarkan pada sumber yang ilmiah.

A.  Bidang Bisnis, Industri, dan Pemerintahan

Martin (2005) memaparkan bahwa modifikasi perilaku dalam bisnis, industri, dan pemerintahan berfungsi untuk meningkatkan kinerja individu yang terlibat di dalamnya. modifisi dalam bidang tersebut lebih dikenal dengan istilah organizational behavior management (OEM) yang didefiniskan sebagai penerapan prinsip-prinsip perilaku dan metode untuk memahami dan mengontrol perilaku individu atau kelompok dalam sebuah organisasi. Modifikasi perilaku dapat diterapkan pada bisnis, industri, dan pemerintahan yang kecil maupun besar dan swasta maupun negeri. Studi paling awal yang dilakukan oleh OEM di Emery Air Freight Company yang dikutip Dri sebuah artikel yang berjudul “Conversations with B. F. Skinner”  pada tahun 1973 tentang dinamika organisasi yang menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan perilaku yang diinginkan pada karyawan akan meningkat dari 45 % menjadi 95 % dengan memberika penguatan positif kepada karyawan berupa pujian dari supervisor. Beranjak dari penelitian tersebut, penelitian-penelitian selanjutnya telah menggunakan teknik mengubag perilaku untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi keterlambatan dan ketidak hadiran, meningkatkan volume penjualan, menciptakan bisnis beru, peningkatan keselamatan kerja, dan meningkatkan hubungan diantara karyawan (Martin, 2005).

     Robbins (2003) memaparkan bahwa terkadang dalam sebuah organisasi atrau industri terdapat sebuah kondisi yang membuat karyawan yang ada di dalamnya merasa tidak nyaman, tertekan, dan ketika konsisi tersebut tidak mampu di atasi oleh karyawan akan menghasilkan kondisi stres untuk karyawan itu sendiri. Stres yang rendah dan sedang dalam sebuah organisasi bukanlah hal yang menuntut perhatian khusus karena stres pada kondisi tersebut dapat bersifat fungsional dan mendorong kinerja karyawan untuk lebih baik (Robbins, 2003). Namun tingkat stress yang labih tinggi ataupun yang rendah tapi berkepanjangan dapat mempengaruhi hasil kinerja karyawan dan memerlukan perhatian khusus dari pihak manajemen.

Perasaan stres yang juga kadang memberi manfaat bagi kinerja karyawan dalam sebuah perusahaan, namun bagi pribadi karyawan kondisi tersebut bukanlah kondisi yang nyaman dan kondisi yang mereka inginkan. Pada dasarnya karyawan akan memperlihatkan kinerja yang baik jika berada pada kondisi yang nyaman. Sehingga diperlukan manajemen pada perusahaan yang bertugas untuk mengolah stres yang dialami olah setiap karyawan. Robbins (2003) menawarkan dua pendekatan untuk mengolah stres kerja yang dialami karyawan, yaitu pendekatan individu dan pendekatan organisasi.

Pendekatan individu menawarkan beberapa strategi yang efektif mencakup teknik-teknik manajemen waktu, meningkatkan latihan fisik, pelatihan pengenderun (relaksasi), dan perluasan jaringan dukungan sosial. manajemen waktu memiliki beberapa psinsip yang meliputi:

  1. membuat daftar kegiatan yang ingin diselesaikan
  2. memprioritaskan kegiatan menurut kepentingan dan urgensinya
  3. Menjadwalkan kegiatan menurut peringkat prioritas
  4. Mengetahui siklus harian dan menangani bagian pekerjaan yang paling menuntut untuk dikerjakan.

Pengolahan stres dengan meningkatkan latihan fisik seperti aerobik, berjalan, berjoging, berenang, dan bersepeda akan meningkatkan kapasitas jantung,menurunkan laju detak jantung, memberikan pengalihan mental dari tekanan kerja, dan menawarkan cara melepaskan energi-energi negatif akibat tekanan kerja. stres yang dikelolah dengan menggunakan pelatihan relaksasi seperti hipnotis, meditasi, dan biofeedback akan membuat tubuh individu mencapai keadaan yang rileks, fisik menjadi santai, dan melepaskan ketegangan akibat tekanan kerja. selain ketiga strategi tersebut, ternyata kehadiran  orang-orang terdekat bagi individu akan mengurangi ketegangan yang dirasakan individu dalam hal ini dukungan orang-orang yang berada dilingkungan sekitar dapat menjadi alternatif untuk mengola stres kerja (Robbins, 2003).

Robbins (2003) memaparkan bahwa pendekatan organisasi menawarkan perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja, penggunaan penetapan sasaran yang realistis, perancangan ulang pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan, dan penegakan program kesejahteraan korporasi. perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja membahas mengenai manjemen yang tidak hanya mempekerjakan individu yang cocok untuk pekerjaan yang monoton, melainkan manajemen juga sebaik mempekerjakan individu yang mampu bekerja pada pekerjaan yang menantan dan menekan sehingga kinerja yang baik diperoleh. Beberapa riset membuktikan bahwa individu akan memiliki kinerja yang baik bila mempunyai sasaran spesifik dan menantang serta menerima umpan balik atas kemajuan mereka peroleh. merancang ulang pekerjaan sehingga mampu memberi karyawan lebih banyak tanggung-jawab, lebih banyak kerja yang bermakna, lebih banyak otonomi, dan peningkatan  umpan balik sehingga dapat mengurangi stres.

Penetapan sasaran didasarkan pada hasil kesimpulan bahwa individu-individu berkinerja lebih baik bila mereka mempunyai sasaran yang spesifik dan menantang serta menerima umpan balik atas kemajuan mereka yang tepat ke arah sasaran ini. Penggunaan sasaran dapat mengurangi stres dan juga memberi motivasi. Sasaran spesifik dipersepsikan sebagai jalan untuk memperjelas harapan kinerja. Selain itu, umpan balik sasaran mengurangi ketidakpastian mengenai kinerja yang sebenarnya. Hal tersebut akan mengakibatkan kurangnya frustasi, ambuguitas peran, dan stres karyawan

Merancang-ulang pekerjaan sehingga mampu memberi karyawan lebih banyak tanggung jawab, lebih banyak kerja yang bermakna, lebih banyak otonomi, dan peningkatan umpan balik sehingga dapat mengurangi stres karena faktor tersebut memberi karyawan kendali yang lebih besar terhadap kegiatan kerja dan mengurangi ketergantungan pada orang lain. Tetapi tidak semua kayawan menginginkan perkerjaan yang diperkaya desain ulang pekerjaan yang tepat adalah dengan melakukan pengurangan tanggung-jawab dan peningkatan spesialisasi.

Robbins (2003) memaparkan bahwa stres akan bersifat merusak pada karyawan karena karyawan merasa tidak pasti akan sasaran, harapan, cara mereka menilai, dan sebagainya. Dengan memberi karyawan kesempatan dalam pengambilan keputusan yang secara langsung akan mempengaruhi  kinerja mereka, manajemen dapat meningkatkan kendali karyawan dan mengurangi stres peran ini. Maka para manajer hendaknya mempertimbangkan peningkatan keterlibatan karyawan ke dalam pengambilan keputusan.

Meningkatkan komunikasi organisasi yang formal dengan para karyawan akan mengurangi ketidakpastian karena mengurangi ambiguitas peran dan konflik peran. Saran akhir adalah menawarkan program kesejahteraan yang di dukung oleh organisasi. Program ini memusatkan perhatian pada keseluruhan kondisi fisik dan mental karyawan (Robbins, 2003).

B.  Bidang Psikologi Olahraga

Sejak awal tahun 1970, penelitian psikologi telah berfokus dan tertarik untuk meneliti bagaimana cara mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para pelatih dan atlet olahraga yang kelak akan diterapkan dalam ilmu pengetahuan, khususnya di bidang psikologi olahraga. psikologi olahraga didefinisikan sebagai penggunaan pengatahuan psikologis untuk meningkatkan kinerja atlet dam kepuasan atlet dan lain-lain yang berhubungan dengan olahraga (Blimke, Gowan, Patterson, & Wood, 1984 dalam Martin, 2005).

Dalam bidang psikologi olahraga tersebut, modifikasi perilaku telah membuat tidak takut akan akibat sosial atas mutu prestasi mereka dan tidak takut kalau cedera atau mencederai lawan, beberapa kontribusi tersebut antara lain (Anonim. 2011):

1.      Anxiety (Kecemasan) dalam Olahraga

Kita semua tentu pernah merasa takut atau cemas dalam berbagai situasi. Takut dimarahi, takut tidak lulus, takut tidak puas, takut kalah, dan sebagainya. Demikian pula atlet. Dalam menghadapi pertandingan, wajar saja kalau atlet menjadi tegang, bimbang, takut, cemas, terutama kalau menghadapi lawan yang lebih kuat atau seimbang, dan kalau situasinya mencekam. Ketakutan pada atlet pada umumnya dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori (Cratty, 1973):

  1. Takut gagal dalam pertandingan
  2. Takut fisiknya tidak akan mampu menyelesaikan tugasnya atau pertandingan dengan baik
  3. (Dan percaya atau tidak), ada pula atlet yang takut menang.

Hasil-hasil penelitian cenderung menunjukkan bahwa atlet paling takut pada akibat sosial yang akan mereka peroleh atas mutu prestasi mereka. Misalnya takut gagal memenuhi harapan pelatih, KONI, pemerintah, takut dicemooh, dikritik, dikecam masyarakat.

1)      Kecemasan dan Motif Berprestasi

Suasana stress sering sekali membuat seseorang hidup penuh gairah, karena dapat mengatasi suasana penuh stress dapat menimbulkan kepuasan dan kebanggaan pada diri seseorang. Yang lebih penting dalam pembinaan atlet, yaitu meningkatkan kemampuan mengatasi stress juga akan menjauhkan kemungkinan atlet mengalami kecemasan.

Stress yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan kecemasan, karena itu tingkat ketegangan yang dapat menimbulkan stress harus selalu dimonitor terus-menerus, disesuaikan dengan kemampuan atlet menghadapi suasana stress. Di samping itu tingkat berat-ringannya. Ketegangan yang dapat ditanagung oleh atlet, khususnya atlet junior, juga harus selalu diperhatikan karena stress atau ketegangan psikis yang terlalu besar, yang tidak tertahankan oleh atlet, juga dapat menimbulkan kecemasan.

Crafty (1973) membedakan kemungkinan timbulnya kecemasan karena takut cidera atau “harm anxiety” atau kecemasan karena takut gagal atau “failure anxiety”. Dalam hubungan ini Crotty mengemukakan sebagai berikut: “Thus, failure anxiety is related to . the individual’s perception of the social consequences of his relative success or failure in a situation: This type of fear was more important to most of the individuals polled than was harm anxiety, or the fear of being physically incapacitated.

Penelitian lebih lanjut mengenai kecemasan karena takut cidera dan kecemasan karena takut gagal, diakui oleh Crotty belum dikembangkan lebih lanjut. Mengenai kecemasan karena takut gagal di satu pihak dan harapan untuk sukses di lain pihak merupakan hal yang cukup menarik untuk dijadikan bahan studi. Sehubungan ini Crotty mengemukakan sebagai berikut: “The degree to which anxiety levels in an individual interfere with performance, therefore, is probably related to the individual’s feelings about success vs. failure and his overall need for achievement.”

Selama berlangsungnya Olympic Games 1968 oleh para ahli psikologi olahraga telah diadakan penelitian mengenai hubungan antara kecemasan, motif berprestasi, dengan penampilan para atlet. Atlet-atlet sebagai subyek penelitian dibagi dalam empat kelompok, yaitu yang memiliki kecemasan tinggi atau “high anxiety” dan yang memiliki kecemasan rendah atau “low anxiety”; kemudian tiap kelompok tersebut dibagi lagi atas dasar (kriteria) mereka yang memiliki motif berprestasi tinggi atau “high needs for achievement dan yang memiliki motif berprestasi rendah atau “low needs for achievement.

2)      Kecemasan dan Frustasi

Antara stress, “arousal”, dan kecemasan atau “anxiety”, menurut Richard H. Cox ada keterkaitannya. Kecemasan dapat didifinisikan sebagai perasaan subyektif yang berdasarkan ketakutan dan meningkatnya “physiological arousal” (Levitt, 1980). Mengenai hubungan stress dengan kecemasan, Soparinch dan Sumorno, kum (1982) mengemukakan sebagai berikut: “Bila stress yang dialami seseorang terlalu besar baginya, hingga tidak dapat dilakukan tindakan untuk mengatasi; atau bila stress yang dihadapi seseorang berlangsung terus-menerus, maka akan timbul kecemasan. Kecemasan adalah suatu perasaan tak berdaya, perasaan tak aman, tanpa sebab yang jelas. Perasaan cemas atau anxiety kalau dilihat dari kata “anxiety” berarti perasaan tercekik”.

Perasaan cemas dapat terjadi pada atlet pada waktu menghadapi keadaan tertentu, misalnya dalam menghadapi kompetisi yang memakan waktu panjang dan ternyata atlet tersebut mengalami kekalahan terus-menerus. Rasa cemas yang terjadi pada suatu keadaan tertentu disebut “State Anxiety”. Menurut Spielberger (1985) “state anxiety” adalah keadaan emosional yang terjadi mendadak (pada waktu tertentu) yang ditandai dengan kecemasan, takut, dan ketegangan; biasanya diikuti dengan perasaan cemas yang mendalam disertai ketegangan dan “physiological arousal”.

Di samping “state anxiety” juga dikenal “trait anxiety”, yaitu rasa cemas yang merupakan sifat-sifat pribadi individu. Trait anxiety merupakan sifat pribadi yang lebih menetap (seperti sifat pembawaan). Atlet yang memiliki “trait anxiety” biasanya menunjukkan sifat mudah cemas menghadapi berbagai permasalahan, khususnya pemasalahan yang berhubungan dengan keamanan pribadinya atau “emotional security”-nya. Perasaan cemas pada dasamya terjadi karena individu khawatir akan terganggu personal security”-nya, oleh karena itu individu yang bersangkutan menunjukkan gejala cemas, yang mengandung rasa takut. “State anxiety” merupakan gejala khusus bagaimana keadaan individu menghadapi situasi tertentu yang mengganggu “personal security”-nya; “state anxiety” mempunyai rujukan obyektif (objective reference). “Trait anxiety” sebagai sifat pribadi individu lebih bersifat tetap dan akan tampak pada berbagai peristiwa atau situasi di mana individu yang bersangkutan merasa terganggu “personal security”-nya; “trait anxiety” mempunyai rujukan subyektif (subjective reference).

Sehubungan dengan gejala “trait anxiety” tersebut, Silva dan Weinberg (1984) ‘mengemukakan adanya gejala “competitive trait anxiety” (CTA) pada sementara atlet. Gejala CTA tersebut adalah gejala di mana atlet menunjukkan rasa cemas dan takut hanya pada waktu ‘akan menghadapi kompetisi saja, dan sesudah selesai kompetisi atlet tersebut tidak menunjukkan kecemasan atau menjadi normal kembali. Robert J. Sonstroem (1984) dalam tulisan yang berjudul: “An Overview of Anxiety in Sport” yang dihimpun oleh Silva dan Weiberg dalam “Psychological Foundations of Sport”, mengemukakan penelitian Davidson dan Schewartz (1976) yang menggunakan postulat (anggapan dasar) bahwa persepsi mengenai kecemasan dapat dibedakan atas komponen kognitif dan somatik. Dengan kuesioner dikembangkan ciri-ciri pengalaman rasa cemas; dan pengelompokan atas dasar ciri-ciri tersebut digunakan untuk menetapkan sistem, perlakuan yang dianjurkan Borkovec (1976) sebagai berikut: “That is, cognitive anxiety reduction is more compatible with self-instruction and thought-stopping methods, for example, and somatic anxiety reduction is better accomplished with methods such as progresive relaxation, biofeed¬back, and Qxercice.” Temuan Davidson dan Schwartsz tersebut, merupakan temuan yang sangat berguna untuk dapat diterapkan dalam menyusun program pembinaan mental atlet, sehubungan dengan perbedaan.-perbedaan individual atlet yang menunjukkan gejala kecemasan.

3)      Frustasi dalam Olahraga

Frustrasi timbal karena individu merasa gagal tidak dapat mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Setiap atlet ingin mendapat kepuasan, ingin terpenuhi kebutuhannya, ingin mencapai harapan untuk menang; dan apabila hal tersebut tidak terwujud, maka dapat menimbulkan frustrasi.

Sebetulnya frustrasi bukan hanya disebabkan karena kegagalan saja, tetapi terutama datang dari dalam diri atlet itu sendiri yang diliputi perasaan gagal. Cukup banyak atict.yang gagal dalam suatu pertandingan atau gagal mencapai prestasi sesuai apa yang diinginkan, tetapi tidak mengalami frustrasi.

Dalam hubungan dengan kemungkinan terjadinya frustrasi ini pelatih harus memasukkan program latihan untuk menyiapkan atlet agar slap menghadapi kemungkinan mengalami kegagalan, disamping mendorong atlet untuk berprestasi setinggi-tingginya. Kesiapan mental untuk menghadapi semua kemungkinan, termasuk juga kemungkinan kalah dalam pertandingan merupakan tugas pelatih untuk menyiapkan seorang calon juara.

Frustrasi dapat terjadi pada atlet yang mempunyai sifat pesimis maupun atlet yang mempunyai sifat optimis. Pada atlet yang mempunyai sifat pesimis, pada waktu ia menghadapi kenyataan kurang berhasil atau belum berhasil, mungkin atlet tersebut sudah merasa gagal lebih dahulu. Atlet yang memiliki sifat-sifat pribadi pesimis mudah mengalami frustrasi, karena dalam mengalami kegagalan sedikit saja, dianggapnya sebagai kegagalan yang akan dialami seterusnya.

Seorang atlet yang mempunyai sifat optimis adalah baik, karena tanpa memiliki sifat optimis atlet tidak akan maju; Haman tertalu optimis juga kurang menountungkan. Atlet yang terlalu optimis adalah atlet yang mempersepsikan diri memiliki kemam-. puan lebih dari keadaan senyatanya, yaitu lebih dari kemampuan yang dimiliki sebenar nya. Hal semacam ini terjadi pada atlet yang “over-confidence”. Atlet yang terlalu optimis, pada waktu mengalami kegagalan, mudah kecewa, kehilangan keseimbangan ernosinya. Sudah barang tentu hal semacam ini kurang menguntungkan, karena tidak stabiInya emosi akan mengganggu stabilitas psikisnya secara keseluruhan; ini berakibat konsentrasinya terganggu, reaksinya berkurang, koordinasi geraknya juga terganggu.

Pada dasarnya frustrasi lebih mudah terjadi pada atlet yang belum memiliki kematangan emosional, hal ini juga berkaitan dengan sifat-sifat kepribadian atlet yang bersangkutan. Kepercayaan pada diri sendiri merupakan hal yang perlu sekali ditanamkan sejak dini, karena percaya diri merupakan salah satu hal yang membentuk kemampuan menghindarkar, diri dart kemungkinan terjadinya frustrasi. Menumbuhkan rasa percaya diri merupakan salah satu program latihan mental yang perlu diperhatikan para pelatih.
Tidak sedikit atlet berbakat yang dapat berprestasi tinggi dan dapat menjadi juara, akhirnya gagal dan hilang ditengah perjalanan hidupnya sebagai atlet yang berprestasi, karena merasa gagal dan mengalami frustrasi. Untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya frustasi ,sejak dini secara sistematis atlet perlu dilatih menghadapi tantangan-tantangan untuk diatasi. Keadaan penuh ketegangan atau stress menghadapi tantangan akan dapat menimbulkan proses adaptasi, yaitu penyesuaian diri sehingga akhirnya cukup mampu mengatasi kemungkinan frustrasi.

Seorang.atlet yang cukup mampu untuk.merigatasi kemungkinan mengalami frustrasi, disebut juga atlet yang memiliki “a bight frustration tolerance” (Crotty, 1973). Menurut Saparinah dan Sumarno Markam (1982), atlet-atlet yang bare terjun dalam kompetisi, mempunyai “ambang stress” yang lebih rendah daripada yang sudah lama terjun dalam kompetisi. Karena yang sudah lama terjun dalam kompetisi sudah lebih terlatih dan sudah terbiasa dengan pengalaman yang penuh dengan stress di masa lalu. Pernyataan Saparinah dan Sumarno Markam tersebut lebih menunjang perlunya pembinaan mental sejak dini; suasana kompetisi yang penuh stress dapat diciptakan sejak dini sehingga dapat meningkatkan kemampuan talon atlet mengatasi stress, dan sekaligus akan menghindarkan kemungkinan mengalami frustrasi.

2.      Stres Dalam Olahraga (Gejala emosional)

Seperti halnya otot-otot kita mengalami ketegangan karena melakukan jaan fisik maka kitapun dapat mengalami ketegangan psikik, yang disebut “stress”.Menurut Gauron (1984) stress seperti halnya ketegangan otot tidak dapat dielakan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita tidak dapat menghindarkan ketegangan psikik atau stress, beberapa ketegangan diperlukan dan beberapa ketegangan tidak diperlukan dalam penampilan dan melakukan tugas. Menurut Gauron kurangnya ketegangan atau “lack of tension” akan berakibat kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik. Untuk dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu dibutuhkan adanya ketegangan otot-otot, dimana ketegangan tersebut sangat diperlukan kemanfaatannya.

Setiap atlet yang bertanding dalam suatu pertandingan olahraga merasakan adanya peningkatan ketegangan emosional untuk mengantisipasi situasi pertandingan yang dihadapi. Singer (1986) mengemukakan bahwa aktivitas penuh ketegangan tidak selalu jelek bagi seorang atlet. Ditinjau dari macam reaksi mental dan emosional, Singer menunjukkan dua gejala yang berhubungan dengan emosi, yaitu: tidak adanya kesiapan dan penuh kesiapan. Tidak adanya kesiapan atau “under readiness” ada hubungan dengan kurangnya motivasi, sedangkan “over readiness” atau penuh kesiapan berhubungan dengan kesiapan untuk menang atau penampilan buruk, ketakutan akan kalah dan sebagainya. Stress atau ketegangan psikik bentulmya dapat beraneka macam. Menurut Gauron (1984) stress menunjukkan gejala tidak sama terhadap tantangan-tantangan Yang dihadapi, untuk dapat melakukan adaptasi. Menghadapi stress, badan manusia Mengadakan reaksi dengan cara-cara atau bentuk yang konsisten, ada pengerahan atau”arousal”system syarat otonom”tertentu.Jadi gejala stress menurut Gauron tersebut dapat lebih bervariasi dibanding “tension” atau ketegangan fisik yang dialami seseorang.

  1. Stress dan Pertandingan

Menurut Scanlan (1984) dalam tulisannya yang berjudul: “Competitive Stress and the Child Athlete” yang dimuat dalam buku “Psychological Foundations of Sport” mengemukakan bahwa “competitive stress” atau stress yang timbul dalam pertandingan merupakan reaksi emosional yang negatif pada anak apabila rasa harga-dirinya merasa terancam. Hal seperti ini terjadi apabila atlet yunior menganggap pertandingan sebagai tantangan yang berat untuk dapat sukses, mengingat kemampuan penampilannya, dan dalam keadaan seperti ini atlet lebih memikirkan akibat dari kekalahannya.

Stress selalu akan terjadi pada diri individu apabila sesuatu yang diharapkan mendapat tantangan, sehingga kemungkinan tidak tercapainya harapan tersebut menghantui pemikirannya. Stress adalah suatu ketegangan emosional, yang akhirnya berpengaruh terhadap proses-proses psikologik maupun proses fisiologik.

Spielberger (1986) dalam tulisannya mengenai “Stress and Anxiety in Sports” dalam kumpulan karya ilmiah yang dihimpun oleh Morgan berjudul “Sport Psychology” (1986) menegaskan bahwa stress menunjukkan “psychobiological process” yang kompleks, proses ini menunjukkan situasi yang mengandung nilai yang dapat merugikan, berbahaya, atau dapat menimbulkan frustrasi (stressor).”Stressor” menurut Spielberger (1986) menunjukkan situasi-situasi atau stimuli yang secara obyektif ditandai dengan adanya tekanan fisik ataupun psikologik atau bahaya dalam suatu tingkat tertentu. situasi penuh stress akan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dalam tingkat-tingkat yang berbeda dalam perkembangan manusia.

Reaksi yang berbeda-beda akan muncul dalam menghadapi “stressor”, tergantung pada situasi tertentu yang diperkirakan mengandung ancaman. Ancaman juga berkaitan dengan persepsi dan penilaian individu terhadap situasi yang dihadapi sebagai hal yang dapat merugikan dan mengandung bahaya. Dalam hubungannya dengan aktivitas olahraga, khususnya kemungkinan terjadinya stress menghadapi pertandingan, maka permasalahannya sangat banyak tergantung pada diri atlet yang bersangkutan.

Mungkin sekali suatu situasi yang sama dapat dirasakan sebagai ancaman bagi seorang atlet, tetapi hanya merupakan tantangan bagi atlet lain, dan mungkin bahkan tidak berarti apa-apa bagi atlet lain. Jadi dari pengalaman-pengalaman mengenai ancaman, ada hubungannya dengan keadaan mental atlet yang bersangkutan. Mengenai ancaman dikaitkan dengan keadaan mental atlet, Spielberger (1986) mengemukakan’adanya dua karakteristik pokok, yang disimpulkannya sebagai berikut:

1) It is future-oriented, generally involving the anticipation of a potentially harmful event that has not yet happened; and It is mediated by mental activities-peerception, thought, memory, and judg¬ment which are involved in the appraisal process”.

Penilaian adanya ancaman yang dihadapi clan adanya penilaian bahaya yanq dihadapi (masa depan) memberi andil penting terhadap timbulnya reaksi emosional serta tindakan yang akan diambil individu menghindari ancaman atau bahaya dihadapinya.

2. Arousal” dan “Inverted U”

Arousal” adalah hal yang tidak dapat dielakkan seperti timbulnya ketegangan fisik atau “tension” dan stress. Yang dimaksudkan dengan “arousal” adalah gejala yang menunjukkan adanya pengerahan peningkatan aktifitas psikis. Terjadinya gejala “arousal” biasanya berjalan sejajar dengan terjadinya peningkatan penampilan atlet; dengan kata lain ada korelasi positif antara “arousal” dengan penampilan atlet.

Menurut Cox (1985) “arousal” adalah suatu istilah netral yang menunjukkan peningkatan aktivitas sistem syaraf simpatetis. Ini menunjukkan intensitas peningkatan giologis, dan tidak dapat digunakan untuk menunjukkan keadaan emosional tertentu. Misalnya, baik orang dalam keadaan senang maupun dalam keadaan takut, ke duanya dapat menyebabkan “arousal” fisiologis; meskipun rasa takut adalah gejala, afek yang bersifat negatif, sedangkan senang atau gembira adalah gejala afek yang bersifat positif.

Mengenai hubungan antara “arousal” dan penampilan atlet yang digambarkan sebagai garis lurus (garis linear), seolah-olah ada korelasi positif antara “arousal” dengan peningkatan penampilan secara terus-menerus, mendapat tantangan antara lain dengan munculnya teori “Inverted U” atau teori U terbalik. Menurut teori “Inverted U” baik arousal” tingkat rendah maupun tingkat tinggi tidak akan menghasiikan penampilan yang setinggi-tingginya (“peak performance’). Tingkat “arousal” moderat (sedang) pada umumnya memberi kemungkinan lebih besar untuk pencapaian puncak penampilan atau “peak performance”.

Richard H. Cox (1985) mengemukakan adanya dua teori dasar mengenai hubungan “arousal” dan penampilan; yang pertama adalah teori “Inverted U”, dan yang ke dua adalah teori drive. Teori “drive” adalah teori multidimensional mengenai (keterampilan dan proses belajar), sedangkan teori “Invelted U” meliputi berbagai sub- teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya hubungan antara “arousal” dan penampilan.

Dewasa ini para ahli cenderung lebih setuju dengan teori “Inverted U” dibanding teori “Drive” yang digambarkan dengan garis linear. Hubungan secara positif yang menunjukkan adanya korelasi positif, yaitu peningkatan “arousal’ akan selalu diikuti peningkatan penampilan; sudah dapat dibayangkan bahwa pada suatu waktu tentu ada batasnya di mana garis hubungan korelasi positif akan berhenti.

Kalau ditelusuri lebih jauh, maka penemu teori “Inverted U” yang merupakan hasil karya klasik adalah Yerkes dan Dodson pada tahun 1908 (Cox, 1985) Yerkes dan Dodson pada waktu itu menemukan saling hubungan antara “arousal” dan kesukaran tugas terhadap, dampaknya pada penampilan. Untuk meneliti “arousal”, cukup banyak “electrophysiological indicators” untuk mengetahui gejala “arousal”, misalnya: dapat diukur dengan “elec-troencephalograph” (EEG), mengukur denyut jantung dengan “electrocardiograph” (EKG), mengukur ketegangan otot dengan “electromyograph” (EMG), kecepatan per-nafasan, tekanan darah, keringat pada telapak tangan, dan sebagainya.

Menurut Joseph B. Oxendine (1980) yang menulis tentang “Emotional Arousal amt Motor Performance” datum kutnpulan karya ilmiah yang himpun Richard N. Suinn “Psychology in Sports”, ada hubungan antara kecemasan dengan “emotional arousal”. Apabila seseorang berbicara tentang “emotional arousal” maka akan dihubungan dengan salah satu gejala negatif seperti: rasa takut, marah, rasa cemas, iri-hati, rasa malu, berki; )emu, dsb-nya. Gejala-gejala yang positif misalnya: gembira, sangat berminat, bahagia, cinta, dan sebagainya. “Arousal” emosional yang negatif dapat mengganggu atau mengacaukan penampilan atlet. Mengenai hal ini juga pernah diteliti oleh para ahli psikologi olahraga selama berlangsungnya Olympic Game 1968.

C. Upaya Pengendaliannya terhadap kecemasan dan stress dalam olahraga

Dalam upaya pengendalian kecemasan (anxiety) dan stress dalam olahraga diantaranya: 1. Strategi Relaksasi, 2. Strategi kognitif, 3.teknik-teknik peredaan ketegangan dan mekanisme pertahanan diri (Gunarsa, S.D, 2002).

Strategi Relaksasi

Keadaan relaks adalah keadaan saat seorang atlet berada dalam kondisi emosi yang tenang, yaitu tidak bergelora atau tegang. Keadaan tidak bergelora tidak berarti merendahnya gairah untuk bermain, melainkan dapat diatur atau dikendalikan. Untuk mencapai keadaan tersebut, diperlukan teknik-teknik tertentu melalui berbagai prosedur, baik aktif maupun pasif. prosedur aktif artinya kegiatan dilakukan sendiri secara aktif. Sementara itu, prosedur pasif berarti seseorang dapat mengendalikan munculnya emosi yang bergelora, atau dikenal sebagai latihan autogenik.

Teknik relaksasi pertama kali dikembangkan oleh Edmund Jacobsen pada awal tahun 1930-an. Jacobsen mengemukakan bahwa seseorang yang sedang berada dalam keadaan sepenuhnya relaks tidak akan memperlihatkan respons emosional seperti terkejut terhadap suara keras. pada tahun 1938, Jacobsen merancang suatu teknik relaksasi yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya apa yang disebut dengan   Latihan Relaksasi progresif (Progressive Relaxation Training).

Dengan latihan relaksasi, Jacobsen percaya bahwa seseorang dapat diubah menjadi relaks pada otot-ototnya. Sekaligus juga, latihan ini mengurangi reaksi emosi yang bergelora, baik pada sistem saraf pusat maupun pada sistem saraf otonom. Latihan ini dapat meningkatkan perasaan segar dan sehat. Kira-kira pada waktu yang bersamaan, seorang dokter di Jerman bernama Johannes Schultz, memperkenalkan suatu teknik pasif agar seseorang mampu menguasai munculnya emosi yang bergelora. Schultz menyebut latihan tersebut sebagai Latihan Autogenik (Autogenic Training). Teknik ini dapat melatih seseorang untuk melakukan sugesti diri, agar dapat mengubah sendiri kondisi kefaalan pada tubuhnya untuk mengendalikan munculnya emosi yang terlalu bergelora. Setelah diajarkan cara-cara untuk melaksanakannya, seseorang tidak lagi tergantung pada ahli terapinya, melainkan dapat melakukannya sendiri melalui teknik sugesti diri (auto-sugestion technique). Jadi, dengan melakukan autogenic training, seorang atlet dapat mengubah sendiri kondisi kefaalannya. Ia juga dapat mengatur dan mengendalikan pemunculan emosinya pada tingkatan yang dikehendaki.

Beberapa contoh dari latihan ini adalah latihan untuk merasakan berat dan panas pada anggota gerak, dengan ungkapan, “Saya rasakan le¬ngan kanan saya berat”, “saya rasakan lengan kanan saya panas dan relaks.” Latihan pemapasan atau pengaturan aktivitas jantung dan paru¬paru, dengan contoh ungkapan, “Pernafasan saya lebih tenang dan denyut jantung saya berdetak lebih lambat”. Serta latihan untuk merasakan panas atau dingin pada perut dan dahi. “Dahi dan perut saya lebih dingin.” Jadi, latihan autogenik merupakan suatu latihan yang menitikberatkan munculnya kemampuan pengendalian gejolak emosi pada tubuh.
Kemudian, sekitar tahun 1950-an, seorang tokoh beraliran behavioristik, Joseph Wolpe, melakukan modifikasi dari teknik relaksasi milik Jacobsen. Wolpe menganggap bahwa teknik milik Jacobsen tersebut memakan waktu terlalu lama. Ia lalu merancang teknik yang lebih pendek, lebih sederhana, dan lebih mudah dilakukan. Teknik ini dikenal dengan narna latihan relaksasi progresif yang merupakan dasar untuk melakukan pengebalan sistematik (systematic desensitization). Teknik ini digunakan untuk menangani seseorang yang memiliki masalah ketegangan dan kecemasan. Mereka yang membutuhkan dapat diajarkan untuk melakukan teknik tersebut sendiri, dengan mempergunakan alat biofeedback (EMG).     Dalam perkembangannya, teknik-teknik yang digunakan, baik oleh Jacobsen maupun Wolpe, dianggap kurang efisien. Oleh karena itu, kemudian bermunculan model-model relaksasi baru sebagaimana yang dikemukakan oleh Bernstein & Borkovec (1973) dan Bernstein & Geffen (1984). Dalam perkembangan selanjutnya, latihan relaksasi progresif digunakan sebagai teknik tersendiri, tidak lagi sebagai bagian dari pendekatan behavioristik. Awalnya, latihan relaksasi progresif ini digunakan oleh pasien penderita kecemasan atau ketegangan yang bersumber pada gejolak emosinya. Latihan relaksasi progresif juga dapat dilakukan melalui suatu alat yang dikenal dengan sebutan biofeedback atau EMG (elektromografi). EMG memiliki fungsi mencatat atau merekam intensitas ketegangan otot¬otot seseorang, untuk kemudian ditampilkan dalam bentuk ukuran angka¬angka, misalnya +3 atau +10. Dengan menggunakan alat tersebut, seseorang dapat memantau tingkatan ketegangan sebelum maupun sesudah dilakukan latihan.

Dengan adanya kemampuan untuk memantau perubahan tingkatan ketegangan pada diri sendiri, maka ketegangan otot-otot dapat diatur sampai pada keadaan relaks yang dikehendaki. Arti praktisnya adalah, seseorang dapat mengatur ketegangan-ketegangan ototnya menjadi lebih relaks, sehingga gejolak emosinya pun menjadi lebih tenang. Apabila penggunaan biofeedback telah dilakukan berkali-kali, maka relaksasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, tanpa membutuhkan alat biofeedback lagi.

Oleh karna itu, para ahli kemudian berupaya keras untuk mencari modifikasi agar latihan relaksasi progresif dapat dilakukan dalam format yang lebih pendek dan praktis. Apabila seseorang telah beberapa kali berhasil dalam keadaan relaks, maka pengelompokan otot dapat diperbesar menjadi lima kelompok, yaitu:

1. Lengan dan tangan bersama-sama.

2. Semua otot muka.

3. Dada, pundak, punggung bagian atas, perut.

4. Pinggul dan pangkal paha.

5. Kaki dan tapak kaki.

Contoh lain dari modifikasi tersebut adalah teknik pernapasan atau breathing  technique. Teknik ini banyak dilakukan oleh para atlet karma dapat dilakukan di sembarang tempat, misalnya di pinggir arena pertandingan, saat menunggu waktu untuk bermain, demikian pula pada saat gejolak emosi sedang memuncak, misalnya pada malam sebelum pertandingan, atau beberapa jam sebelum pertandingan.

Menurut Masters, dan kawan-kawan (1987) (dalam Gunarsa, S.D., 2002), manfaat dari melakukan latihan relaksasi progresif adalah:

1. Meningkatnya pemahaman mengenai ketegangan otot. Artinya, ada pemahaman bahwa gejolak emosi berpengaruh terhadap ketegangan otot dan sebaliknya.

2. Meningkatnya kemampuan untuk mengendalikan ketegangan otot.

3. Meningkatnya kemampuan untuk mengendalikan kegiatan kognitif, yaitu meliputi kemampuan pemusatan perhatian terhadap suatu objek.

4. Meningkatnya kemampuan untuk melakukan kegiatan.

5. Menurunnya ketegangan otot.

6. Menurunnya gejolak emosi karena pengaruh perubahan kefaalan.

7. Menurunnya tingkat kecemasan, serta emosi-emosi negatif lainnya.

8. Menurunnya kekhawatiran dan ketakutan.

Selain latihan relaksasi progresif, dalam melakukan perubahan atau rnodifikasi suatu perilaku, dikenal pula suatu teknik yang disebut sebagai systematic desensitization atau teknik pengebalan sistematik. Jika terdapat suatu keadaan atau objek yang dipersepsikan tidak menguntungkan sehingga mempengaruhi gejolak emosi secara luar biasa clan ditampilkan dalam emosi tegang, maka tentu akan berakibat buruk terhadap penampilan. Seorang atlet dapat Baja merasakan ketakutan-ke¬takutan tertentu pada saat bertanding, seperti hal-hal yang berkaitan de¬ngan lawan tandingnya, suhu arena atau cuaca pada umumnya, angin, sorakan penonton, atau penilaian dari tokoh-tokoh tertentu yang sedang menyaksikan.

Namun demikian, keadaan-keadaan seperti ini merupakan hal yang mutlak harus dihadapi. Oleh karena itu, seorang atlet harus mampu menghadapi keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan sebagaimana disebutkan di atas. Kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi terse-but merupakan keterampilan individual dan khusus yang diajarkan oleh pelatih atau psikolog olahraganya.

Teknik pengebalan sistematik (systematic desensitization) merupakan latihan bertahap untuk mengurangi kepekaan terhadap suatu rangsang, sehingga terbentuk habituasi atau pembiasaan. Suatu rangsang yang awalnya menimbulkan gejolak emosi yang sangat tinggi, melalui latihan sistematik tertentu, lambat-laun tidak lagi dipersepsikan negatif. Secara bertahap, akan terjadi pengurangan atau pengenduran reaksi emosi, sehingga gejolak emosi pun menjadi stabil.

Jadi, sumber rangsang tidak diubah atau diganti, melainkan di dalam diri atlet terjadi perubahan secara sistematik Gejolak emosi yang pada awalnya sangat tinggi saat menghadapi suatu keadaan, lambat-laun menjadi berkurang. Ini merupakan prinsip sistematik desensitisasi, atau upaya untuk mengatur reaksi-reaksi emosi yang bergejolak dalam batas-batas proporsi yang wajar dan tidak merugikan.

Cara relaksasi lainnya adalah transcendental meditation atau meditasi transendental. Teknik ini merupakan relaksasi yang dikembangkan dari tradisi India, diperkenalkan di Amerika pada awal tahun 1960-an oleh seorang pendeta India, Maharishi Mahesh Yogi.

Keith Wallace dari UCLA merupakan salah satu psikolog pertama yang menyelicliki mengenai teknik tersebut. Penelitian Wallace (1971) me¬nunjukkan bahwa teknik tersebut memberikan efek luar biasa pada tubuh, yaitu detak jantung menurun sampai stabil clan peredaran asam laktat menjadi tiga kali lebih cepat dibandingkan saat beristirahat biasa. Meditasi transendental merupakan teknik mental yang dapat dipraktekkan setiap pagi dan malam selama 15 sampai 20 menit, saat seseorang duduk nyaman dengan mats tertutup sambil memikirkan suatu ‘mantera’ tertentu. Setelah 20 menit, ketegangan tubuh akan mengenclor total dan orang yang bersangkutan akan mengalami kondisi yang segar dan dinamis, percaya diri, serta siap untuk beraksi.

Meditasi transendental dilakukan seseorang dengan memusatkan perhatian dan berkonsentrasi terhadap suatu objek atau pikiran dan kegiatan tersebut ditahannya untuk beberapa waktu dalam posisi tubuh yang nyaman, tanpa terganggu atau teralih perhatian dan konsentrasinya. Apabila hal tersebut dapat dilakukan, maka akan diperoleh keadaan relaks. Selama meditasi, tubuh akan mencapai tahap sadar sepenuhnya namun tanpa beban pikiran apa pun. Pada kondisi tersebut, seseorang akan siap menghadapi rangsang apa pun, serta siap memberikan respons yang sesuai dan optimal.

Strategi Kognitif

Strategi kognitif didasari oleh pendekatan kognitif yang menekankan bahwa pikiran atau proses berpikir merupakan sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang. Jadi, kesalahan, kegagalan, ataupun kekecewaan, tidak disebabkan oleh objek dari luar, namun pada hakikatnya bersumber pada inti pikiran atau proses berpikir seseorang.

Misalnya, seorang atlet bulutangkis tidak dapat menyalahkan shuttlecock karena berat atau kecepatannya berbeda dari biasanya, karena yang menentukan sesuai atau tidaknya caranya memukul dan kekuatan pu¬kulan adalah proses berpikir atlet tersebut. Jadi, yang seharusnya diubah adalah pengendali perilaku atlet, dalam hal ini gerakan atau pukulannya, agar dapat menyesuaikan dengan keadaan khusus. Dari penjelasan ini, tampak bahwa proses kognitif merupakan sumber dari semua perilaku pada atlet.

Salah satu kegiatan yang mendukung berfungsinya proses kognitif adalah kegiatan pemusatan perhatian yang bersumber pada inti pikiran seseorang. Contohnya, pemikiran sebagai berikut: “Saga memusatkan perhatian terhadap kornitmen saya untuk bermain sesuai dengan apa yang sudah saya latih dan strategi bermain saya.” Kegiatan ini merupakan kegiatan menginstruksi diri sendiri (self-instruction), sehingga apa pun yang akan terjadi dalam permainan, atlet akan berpedoman pada proses berpikirnya.

Namun dalam kenyataannya, strategi kognitif seperti ini sangat erat kaitannya dengan status emosi dan berbagai macam pergolakannya. Pergolakan tersebut berasal dari tingkat ketegangan yang dialami oleh atlet, khususnya yang bersumber pada dirinya, yakni trait anxiety.

Teknik-teknik Peredaan Ketegangan

Hanya mengetahui “apa” atau “the what”saja mengapa atlet tegang atau takut tanpa mengetahui “the how” atau “bagaimana” cara penyembuhannya tidaklah banyak manfaatnya dan tidak akan menolong atlet. Oleh karena itu, pelatih sebaiknya juga mempersenjatai diri dengan keterampilan bagaimana cara meredakan ketegangan yang ada pada atlet.

Ada beberapa teknik yang bisa membantu menurunkan atau mengurangi ketegangan atlet (desensitizatioll, techniques). Antara lain:

a. Teknik Jacobson dan Schultz, yaitu dengan mengurangi arti pentingnya pertandingan dalam benak atlet, atau mengurangi ancaman hukuman kalau atlet gagal.

b. Teknik Cratty. Dengan teknik ini, mula-mula disusun suatu urutan (hierarki) anxiety yang dialami atlet, dari Yang paling ditakuti sampai yang paling kurang ditakuti oleh atlet. Pada permulaan, atlet dihadapkan pada situasi yang paling sedikit membangkitkan anxiety. Setelah atlet terbiasa dan tidak takut lagi dengan situasi tersebut, dia kemudian dilibatkan dalam situasi takut yang agak lebih berat. Demikian seterusnya.

c. Teknik progressive muscle relaxation dari Jacobson, yaitu latihan memaksa otot-otot yang tegang dijadikan relaks.

d. Teknik autogenic relaxation, yaitu toknik relaksasi Yang menekankan pada sugesti diri (self-suggestion).

e. Latihan pernapasan dalam (deep breathing).

f. Meditasi.

g. Berpikir positif.

h. Visualisasi.

i. Latihan simulasi: pada waktu latihan, berlatihlah dengan menciptakan situasi seakan-akan sedang betul¬betul bertanding, dan usahakan untuk tampil sebaik¬baiknya. Lakukan latihan dengan intensitas yang tinggi seperti dalam pertandingan sebetulnya. Biarkan atlet mengalami stres fisik maupun mental. Dengan berulang kali berlatih dengan stres yang tinggi, diharapkan lama-kelamaan ketegangan atlet akan berkurang pada waktu menghadapi stres.

Mehanisme pertahanan diri

Anxiety, kekhawatiran, dan ketakutan yang berkecamuk dalam diri atlet adalah gejala yang umum dalam olahraga. Anxiety dan ketakutan adalah reaksi terhadap perasaan “khawatir akan terancam pribadinya”. Karena anxiety yang dialami atlet adalah sesuatu keadaan yang sangat tidal? enak dan selamanya akan berkecamuk dalam kehidupan seorang atlet, maka dibutuhkan suatu mekanisme di dalam kepribadiannya untuk inenolongitya inengotasi atau ineinb,-baskan dirinya dari anxiety tersebut. Mekanisme ini biasanya disebut security operation atau defense inechanisin. Jadi mekanisme ini berfungsi sebagai alat agar kepribadiannya tidak merasa terancam. Sering kali mekanisme ini bekerja demikian efektif sehingga atlet benar-benar terlindung dari perasaan cemas tersebut. Tampaknya di semua cabang olahraga sering terjadi mekanisme pertahanan demikian, bukan hanya oleh atlet, akan tetapi juga oleh pelatih, tim manajer, pengurus dan lain-lain.

Memang mungkin saja alasan yang dikemukakan atlet, pelatih, Tim Manajer, Pengurus, KONI, dan lain-lain memang betul karena lapangan licin, bola tidak bundar, banyak angin, penonton ribut. Akan tetapi kebanyakan alasannya tidak rasional dan hanya merupakan manifestasi dari perasaan kecewa karena mengalami kegagalan, serta kedok agar terhindar dari perasaan cemas dan takut akan dikritik, di cemooh, dikecam oleh masyarakat, dan agar mereka tidak disalahkan oleh masyarakat atas kekalahan atau kegagalan mereka. Karena itu penyebab kegagalannya dilimpahkan kepada orang atau benda lain di luar dirinya. Sebagai pelatih, kita harus mendidik dan melatih para atlet agar tidak membiasakan diri menggunakan defense mechanism yang tidak wajar sebagaimana contoh-contoh tersebut di atas. Sebab-sebab dari setiap kegagalan haruslah didiskusikan, dievaluasi, dianalisis secara rasional, intelektual dan inteligen. Pelatih harus mengajarkan dan mendidik atlet agar tidak meremehkan kegagalan, dan menilai setiap kegagalan dengan penuh pemahaman dan pengertian yang wajar. Dengan demikian dapatlah diharapkan pula bahwa maturitas mental para atlet sedikit demi sedikit dapat dikembangkan.

 

A.  Kesimpulan

Robbins (2003) menawarkan dua pendekatan untuk mengolah stres kerja yang dialami karyawan, yaitu pendekatan individu dan pendekatan organisasi.

Pendekatan individu menawarkan beberapa strategi yang efektif mencakup teknik-teknik manajemen waktu, meningkatkan latihan fisik, pelatihan pengenderun (relaksasi), dan perluasan jaringan dukungan sosial. manajemen waktu memiliki beberapa psinsip yang meliputi:

  1. Membuat daftar kegiatan yang ingin diselesaikan
  2. Memprioritaskan kegiatan menurut kepentingan dan urgensinya
  3. Menjadwalkan kegiatan menurut peringkat prioritas
  4. Mengetahui siklus harian dan menangani bagian pekerjaan yang paling menuntut untuk dikerjakan.

Robbins (2003) memaparkan bahwa pendekatan organisasi menawarkan perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja, penggunaan penetapan sasaran yang realistis, perancangan ulang pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan, dan penegakan program kesejahteraan korporasi.

Dalam upaya pengendalian kecemasan (anxiety) dan stress dalam olahraga diantaranya: 1. Strategi Relaksasi, 2. Strategi kognitif, 3.teknik-teknik peredaan ketegangan dan mekanisme pertahanan diri (Gunarsa, S.D, 2002).

 

Referensi

Anonim. (2011). Makalah psikologi olahraga (Online). http://wiki.bestlagu.com/news/166554-makalah-psikologi-olahraga.html. di akses tanggal 3 Maret 2012.

Cox, R.H. (1985). Sport Psychology. Iowa: Wm.C. Brown Publ.

Cratty, B.J. (1973). Psychology in contemporary sport. New York: Prentice Hall, Inc.

Gunarsa, S.D. (2002). “Sumbangan Psikologi bagi Dunia Olahraga”, Dalam Supratiknya, Faturrochman & Haryanto S.: Tantangan Psikologi Menghadapi Milenluin Baru. Yogyakarta: Yayasan Pembina Fakultas Psikologi UGM.

Hartosujono. (2011). Diktat modifikasi perilaku. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Martin, G & Pear, J. (2005). Behavior modification wahat it is and how to do it, (8th). New Jersey: Prentice Hall.

Robbins, S. P. (2003). Organizational behavior, (7th). New Jersey: Pearson Education.

Singer, R.N. (1986). Peak Performance and More. Ithaca, New York: Mouve-ment Publ.

Soekadji, Soetarlinah. (1983). Modifikasi perilaku: penerapan sehari-hari dan penerapan profesional. Yogyakarta: Liberty.

Spielberger, C.D. (1985). Anxiety: Current Trends in Theory and Research. New York: Academic Press.

Spielberger, C.D. (1986b). Anxiety and Behavior. New York: Academic Press.

Suinn, R. (1990). Psychological Techniques for Individual Performance. New York: Macmillan.

Ullmann, L. P & Krassner, L. (1965). Case studies in behavior modification. USA: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Wallace, K. (1971). Dalam: Kanellakos, C. Transcendental meditation, what’s it all about. Dalam: Fisher, A.C. (1978). Psychology of sport. Palo Alto: Mayfield Publ. Co.