Tamu Kecil

Ahad pagi ini suasana di rumah sedang sibuk-sibuknya membersihkan. Efek kemarin pagi hingga malam mengadakan acara walimahan kakak. Pekerjaan sangat banyak dan menumpuk. Meski begitu, sangat menyenangkan rasanya jika rumah ramai dengan keluarga dan bekerja sama membersihkan. Momen yang sangat jarang bisa berkumpul bersama seperti saat ini.

Saya mendapatkan bagian membersihkan rumah bagian lantai 2. Sedang asyik-asyiknya membersihkan, tiba-tiba dipanggil turun oleh adik. Katanya ada temanku yang datang. Namun karena seringnya dikerjai oleh adik, saya mengabaikan panggilan itu dan melanjutkan pekerjaan. Hingga ayah yang kemudian memanggil kembali.

“siapa yang bertamu sepagi ini?” pikirku. Kudapati seorang lelaki kecil sedang tersenyum menggunakan baju kaos putih dan celana biru selutut sedang berdiri di depan pintu rumah menungguiku. Ditangannya ia menggenggam kantongan putih yang sepertinya berat sehingga harus ia angkat dengan kedua tangannya. “Kak oni!” serunya. Lelaki kecil manis itu bernama delon, adik dari Ai’. Ai adalah anak tetanggaku yang saat ini kelas 2 SD. Ia seringkali minta diajarkan membaca Iqro setiap habis maghrib menjelang isya di masjid dekat rumah. Ia juga adalah teman pertamaku setelah pindah di kompleks baru ini.

Segera kusapa Delon dan menanyakan dimana keberadaan Ai. Ai ternyata sedang menungguiku di samping rumah sedang berdiri menatapku. Ia terlihat rapi dengan baju kaus merah dan celana jeans panjang juga topi berwarna senada dengan kausnya. Kusapa dan ia hanya tersenyum dan menolak mendekat. Delon kemudian memberikan kantongan putih yang di genggamnya padaku. “ini kakak oni, dari kampung” ucapnya lalu berlari bersama kakaknya pulang. “manis sekali adik-adikku ini” pikirku.11982375_1161557830526338_1831287113_o

Kantongan putih itu cukup berat untuk satu genggamanku. kantong putih berisi garam kasar oleh-oleh dari jeneponto khusus buatku. Ada rasa bahagia dan haru mendapatkan hadiah istimewa dari mereka. Hal-hal sederhana yang kita lakukan bisa jadi memberi pengaruh besar pada hidup seseorang. Maka teruslah bersemangat dalam hal-hal positif dan lakukan dengan senang hati.

Jagoan!

Graha, 2 Tahun. Menjadi yatim bukan pilihannya. Kini ia akan melanjutkan hidupnya dalam kasih sayang nenek tempatnya tinggal kini. Terlepas dari rencana Tuhan yang besar pada hamba kecilnya ini, ia adalah sahabat kecilku disini. Tugas negara yang memintaku menetap beberapa waktu di kota Masenrempulu kemudian yang mengantarku bisa serumah dengannya. Sama seperti bocah pada umumnya, nakal adalah bagian dari dirinya. Namun Allah sayang padanya. Ia sehat, cerdas dan dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya.
12510705_1231464233535697_1202754008_o
Hari ini sejak subuh telah ramai di rumah. Aa’ sudah bangun (panggilan kecil graha dan juga karena ia adalah orang bandung). Biasanya ia paling cepat bangun pukul 8 atau 9 pagi. Entah karena mimpi buruk atau terkaget, ia terbangun bersamaan dengan adzan subuh. Tentu saja masih banyak waktu luang bersamanya sebelum menjalankan tugas negara.

Takut menggangu aktivitas pagi yang lain, ia kuaj12562758_1231470250201762_187299964_oak melihat kelinciku esmeralda dibawah kolong rumah. Sambil membiarkannya mengajak bicara inchy (panggilan akrab esmeralda), saya membersihkan sekitar kandang inchy. selang 5 menit ia kemudian bosan dan menatapku. Seperti yang telah kuduga, ia tertarik pada sapu di tanganku. langsung saja disambarnya lalu kemudian ia membersihkan (lebih tepatnya menghamburkan kumpulan kotoran yang telah ku geserkan).

Pelajaran pertama pagi ini “anak adalah peniru terbaik”.

Selesai dengan aktivitas membersihkan (menghambur yang dibersi12562542_1231464250202362_787535528_ohkan), Aa’ kuajak saja ke pasar pagi ini membelikan inchy sayuran. Sekalian memberikan ia kesempatan belajar bertanggung jawab dan memberikan ia kepercayaan jika ia bisa melakukannya. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan berlarian dan belajar berhitung (ia suka sekali dengan angka empat. sa? pat. du? pat? ti? pat. em? empaaat! soraknya.. hehehe)

Graha memang anak yang menggemaskan. baru saja tiba di pasar, ia menjadi rebutan para penjual. ia menjadi bingung dengan banyaknya yang menawarkan sayuran padanya. Sempat terdiam, ia kemudian memutuskan untuk mendatangi seorang ibu yang menjual sayur kangkung.

ibu: mau beli apa, nak?
Aa’: kangkung! (sambil menyodorkan uangnya dengan tangan kanan seraya mengucapkan “telima aciih” – tentu saja atas instruksi tante cantiknya)

12544289_1231464276869026_78333653_o

Senang sudah berhasil menjalankan amanahnya membeli kangkung untuk esmeralda, saya kemudian berinisiatif mengambil fotonya diriringi suara para penjual sayur “senyum nak, senyum” kata mereka.
12562419_1231464306869023_888526949_o12562663_1231476530201134_114887368_o

 

Dengan penuh semangat ia kemudian lari pulang untuk membawakan inchy sayur kangkung yang dibelinya dan meninggalkanku jauh dibelakang yang terus mengambil gambarnya.

Tiba dirum12557159_1231464353535685_1585902193_oah, ia berlari mengambil kursi andalannya (bangku kecil berwarna hijau yang sering disebutnya kursinya Aa’) dan penuh semangat memberikan inchy kangkung.

Inilah aktivitas pagi yang sangat menyenangkan bersama bandit kecil tante fany.

 

 

Semua anak berhak mendapatkan porsi kasih sayang yang sama dari siapapun dan dimanapun.

Terima kasih telah mengajarkan padaku arti kebersamaan. Beruntungnya aku yang hanya terpisah jarak dengan orang-orang tersayang namun selalu mengeluh jika sendirian. Sedang dirimu, sosok bocah kecil yang mungkin belum paham dengan dunia, mampu memeluk dan tulus dengan siapapun. Kita tak pernah benar-benar sendirian. Ada Allah.

12544906_1231464370202350_774021646_o

Terima kasih, jagoan!
Selamat pagi dari kota Enrekang ^-^

Pantun Untuk Kakak

Saya “gak suka” puisi dan pantun. Sayangnya pertemuan NBS kali ini adalah adalah menuliskan puisi/pantun. hari ini giliranku untuk menjadi penanggung jawab. Kesibukan lain yang juga menyita perhatian semakin membuatku panik karena tidak sempat menyiapkan materi. Saya memohon bantuan kepada kordinatorku di Tim A kak ica untuk “berjaga-jaga” dengan ketidaksiapanku. “apami kuajarkan adek-adek ini, ca? nda kusuka puisi puisian” keluhku.

Sibuk, panas, masuk siang pula. “sedang tidak mood” sebagai kalimat andalan. Jika bukan karena peran tanggung jawab mungkin saya bisa membuat alasan untuk tidak hadir. Tiba di sekolah, saya telah terbantu oleh kak ustri yang dihadirkan ica untuk gabung namun “dijebak” untuk menggantikanku menjelaskan. Membuka kelas dengan sedikit lalala yeyeye dan meninggalkan ruangan.

Kami memperhatikan bagaimana adik-adik merespon cara mengajar kak ustri. mereka terlihat lebih tenang meski banyak yang tidak memperhatikan. Sepertinya memang ada pengaruh pembawaan seseorang dalam mengajar. kak ustri lebih tenang dan bersuara kecil (tentu saja tidak seperti kami). Seolah membiarkan, saya bersama ica dan ifa menyempatkan selfie sejenak. 10955916_1018081368207319_592895634_n Baru saja mengambil satu gambar, terdengar suara dari dalam kelas “iih foto selfieki’” sahut seorang adik. “oke, masuk kelas dan hadapi!” kataku dalam hati. Merasa bersalah telah membiarkan kak ustri mengisi kelas sendiri, kami kemudian masuk di kelas.

Benar saja ketika masuk kelas suasana berubah. Teriakan, pertanyan, kegaduhan bermunculan. Menjengkelkan sih, tapi sejujurnya ini yang selalu dirindukan ditiap pekannya. Langsung saja kami mengambil alih ruangan. Kami membagi mereka pertim (saya menilai ini lebih efektif menghandle mereka secara berjamaah berbekal pengalaman dipertemuan sebelumnya). Mereka dibagi kedalam tiga tim besar berdasarkan deretan tempat duduk. Maka terbentuklah tiga tim, tim 1 (tim gaul), tim 2 (tim smile) dan tim 3 (tim Hardcore). “Ada ada saja ide nama mereka” pikirku. 10956048_1018081511540638_1559652621_nTugas tim adalah menjaga satu sama lain agar tidak melanggar peraturan yang telah kami sepakati bersama di kelas. Terbukti efektif karena mereka yang saling menegur satu sama lain jika melanggar. Tentu saja ada point yang akan mereka kejar dan itu nilai sebuah tim.

Setelah pembagian tim saya mencoba melemparkan pertanyaan ”ada yang tahu apa itu 10949828_1018081428207313_283099779_npantun?” tiba tiba rifadly berteriak “ikan hiu makan ubi, I love you bertubi tubi” diikuti suara tawa kami dan teman-temannya. “its gonna be fun!” pikirku bersemangat. Memberikan waktu 45 menit untuk tiap tim menyiapkan pantun sebanyak banyaknya yang nanti akan mereka gunakan tuk saling melempar pantun. Kehadiran kawan-kawan icha di kelas cukup membantu kami menghandle pertanyaan adik-adik. Ruang kelas sudah seperti sauna sejuknya. Saling berebutan oksigen sehingga saya sesekali keluar kelar untuk mencari udara.

Ada suara rusuh di kelas saat aku diluar. Adik Rafly terlihat menangis dan hendak memukul Fatir. Demi kenyamanan kelas, kuamankan ia dan mengajaknya berbicara sejenak diluar. *Sedikit berbagi tips jika ingin berbicara dengan anak agar ia mau mendengarkan (berdasarkan hasil observasi dan teori yang kulahap untuk sebuah gelar dibelakang nama). Rendahkan badanmu (seukuran dengannya), tatap matanya, dengarkan pendapatnya dan jangan potong pembicaraannya. 10955973_1018081258207330_1435903749_nSetelah mendengarkan alasan ia menangis dan marah, kemudian tawarkan apakah ia mau memaafkan atau tidak. Jika tidak, silahkan tawar menawar solusi. Setelah ada kesepakatan, panggil teman berkelahinya. Lakukan hal yang sama dan pastikan mereka bersalaman. Berikan tepukan di tangan “ces” juga pujian pada keduanya setelah mereka melakukan perdamaian. Budaya memaafkan memang perlu ditanamkan sejak dini karena merekalah yang kelak akan mendamaikan dunia (Harapan seorang kakak).

Setelah aman dan kedua anak berdamai, saya ikut masuk kembali ke kelas bersama mereka. Mendampingi, membujuk dan memastikan adik-adik terlibat dalam kerja tim kami lakukan. Luar biasa, adik-adik mampu bekerja sama dengan baik dan menghasilkan banyak karya hingga tak semua pantun bisa dibacakan. rasanya puas dan bahagia melihat adik-adik yang selama ini didampingi mau “bergerak” juga. Seperti adik fahmi misalnya. Hampir ditiap pertemuan rasanya ia tidak pernah mau mengikuti apa yang kami arahkan. Dan kali ini ia akhirnya mau membuat pantun dan itu untukku. Sayang isinya tidak manis, tapi dengan ia mau menulis sudah menjadi kado tersendiri bagiku.

10934601_1018081478207308_215661248_n

 “burung perkutut, burung kutilang.
kak fany kentut gak bilang-bilang.”

ya salam, adikku 🙂

Om Dedi

Sore ini di Makassar sedang hujan. Saya memilih menghabiskan waktu menonton film korea di kamar sambil terbungkus selimut. Sudah hal yang biasa jika adik fadil mengetok pintu kamar untuk mengerjaiku sehingga kuabaikan saja tiap ketokan yang dilakukan di pintu kamar. Namun saya seperti mendengar suara ramai di ruang tamu. Saya kemudian mengintip dibalik dinding kamar dan sepertinya memang ada tamu. “mungkin tamunya mama” pikirku. Sedikit merapikan diri kemudian menuju ruang tamu. Saya sangat kaget dan hampir menangis. Saya kedatangan tamu istimewa. Dia tamuku. Beliau dengan sangat ramah menyapaku lalu dengan segera kusalim tangannya.

——————————————————————————–

Salah satu hal yang paling senang kulakukan adalah diminta menceritakan masa kecilku. Semasa kecil saya habiskan di sebuah pulau kecil di atas provinsi irian jaya. Jika melihat di peta Indonesia, pulau itu berada di bagian atas dekat kepala pulau (saya melihat bentuk pulau irian seperti burung). Tuntutan pekerjaan orang tua yang mengharuskan kami tinggal disana. Disana terdapat perkumpulan orang Sulawesi khususnya orang bugis. Meski diantara kita tak memiliki hubungan darah, namun keakraban kami sudah seperti keluarga bahkan setelah kami berkumpul kembali di Sulawesi.

Sewaktu kecil saya pernah memiliki om yang sangat lucu dan menyenangkan. Saya memanggil beliau Om Dedi. Ia saat itu masih “anak muda” dan sering main di rumahku karena dekat dengan bapak. Beliau sama sekali tak memiliki ikatanan darah dengan kami namun sama-sama berasal dari Sulawesi selatan. Saya bersama kakak sering bermain bersama beliau. Sama seperti anak kecil pada umumnya, kami selalu memiliki sejuta pertanyaan dan beliaulah tempat kami bertanya. Bukan hanya karena ia bisa menjawab segala pertanyaan kami, namun beliau selalu membungkusnya dengan candaan. Seringkali jika beliau menginap dirumah, sudah menjadi kewajibannya untuk mendongengkan kami sebelum tidur. Bergelantungan di lehernya, menjambak rambutnya, menggelitik kakinya jika tidur, mengantar jemput sekolah, menemani melihat buaya dan mencuci motor di sungai sudah menjadi hal yang biasa kami lakukan dulu. Bagaimana bisa saya lupa dengan beliau? Saya beruntung dikelilingi orang-orang yang baik dan lingkungan yang baik sewaktu kecil. Hal itu yang kemudian mempengaruhi cara saya membawa diri dengan lingkungan sekarang.

Kasih sayang orang tua atau pengasuh selama beberapa tahun pertama kehidupan anak merupakan kunci utama perkembangan sosial anak, meningkatkan kompetensi anak secara sosial dan penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya (Desmita,2006).”

om dedi

Sekarang Om dedi berdomisili di kota Surabaya. Istrinya orang Surabaya dan telah memiliki seorang anak laki-laki bernama rafli. Waktu kutanya kenapa diberi nama rafli, seperti biasa beliau menjawab dengan penuh candaan. “saya kasih nama yang gaul anakku karena saya mau anakku pintar bergaul, rafli nama yang cukup gaul” kata beliau. Akhir pertemuan beliau meminta nomorku dengan nada bercanda “ini nomornya bisaji whatsapp? Masa anak muda tidak punya whatsapp” ujarnya. Ahahahaha… beliau makin gaul ternyata. Saya akan sangat senang memperkenalkan beliau pada dunia bahwa ia adalah om ku. Semoga Allah menjaga beliau dengan sebaik-baik penjagaaNya. Amin.

Referensi:
Desmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kami Kuat!

“Tuhan memang maha adil dalam mengatur segala sesuatu (Icha, 2014).”

Mempersiapkan segala kebutuhan mengajar sudah bukan hal yang baru bagi kami para sobat lemina. Namun kali ini, jauh sebelum hari NBS tiba, saya bersama kawan tim mencoba mengevaluasi pertemuan dengan mengaplikasikan hasil evaluasi bersama semua relawan NBS di KFC sabtu lalu. Perencanaan rundown dengan strategi ajar yang baru hingga kemungkinan terburuk jika cuaca masih tidak bersahabat dan hanya sedikit relawan saja yang hadir pun telah kami persiapkan. Bermodalkan persiapan itu kami dengan percaya diri siap hadir di pertemuan berikutnya.

Sabtu yang dinantikan tiba dan ternyata kelas kami masuk siang. Sungguh diluar perencanaan dan sama sekali tak terbersit saat membahas persiapan. Segera saja saya bersama ica yang telah lebih dahulu tiba di sekolah berkordinasi dengan guru dan tim A via chat grup. Ruang kelas yang tidak memungkinkan untuk digunakan membuat anak-anak kami harus masuk di pukul 13.00 wita dan bertukar kelas dengan kelas pagi. Tidak ingin membiarkan waktu kosong, saya dan icha memilih membantu tim B di pagi hari.

gabung tim b

Menjelang dhuhur satu persatu relawan di tim B mulai pulang. Saya mulai khawatir dan mulai memikirkan hal terburuk bahwa hanya kami berdua yang akan masuk di kelas kami pukul 13.00 wita nanti. Membayangkan betapa lincahnya anak-anak di kelasku nanti ditambah energi yang cukup terkuras saat mendampingi kelas tim B di pagi harinya sudah membuatku sedikit gelisah. Segala persiapan mendadak buyar. Saya dan icha hanya bisa saling menguatkan satu sama lain, “KITA KUAT!” kata kami.

Pukul 13.00 wita kami masuk di kelas. Senang sekali bisa melihat dan mendengarkan mereka dengan sangat rapi melafalkan janji siswa, membaca doa sebelum kelas dimulai dan mengucapkan terima kasih pada kami, tentu saja didampingi oleh wali kelas mereka. Tak lama setelah kelas dimulai, tidak usah menunggu waktu yang lama untuk melihat seberapa “lincah” anak-anak kami. Kami cukup terbantu dengan kehadiran ayus dan kak sari dari tim B yang mau menemani kami meski pada akhirnya mereka mulai kelelahan dan percaya pada cerita kami soal betapa “lincah” anak-anak kami sebelumnya.

masih semnagat

“KAMI KUAT” kata kami lagi. Segala rencana yang telah kami persiapkan tetap bisa berjalan. “Tuhan memang maha adil dalam mengatur segala sesuatu” kata icha. Bayangkan saja jika kelas kami tetap di pagi hari dan kami tidak bisa saling membantu tim lain. Bayangkan jika saya terlibat menjadi volunteer di event lain dan icha akan sendirian. Sepanjang perjalanan pulang kami sore tadi, kami sibuk menyimpulkan pelajaran-pelajaran hari ini. Namun hal yang paling menyenangkan adalah kami sama-sama menyadari bahwa apa yang kami lakukan adalah hal yang kami senangi tanpa merasa terbebani. Kami Kuat, kami bangga kami bisa membuktikan seberapa kuat kami.

shalat bareng ica

 

 

Pujian Berbuah Manis

Setiap dua kali dalam sebulan sudah menjadi rutinitas wajib bagi kami relawan sobat anak untuk mendampingi #NulisbarengSobat2 di SDN Paccinang 1. Pagi ini saya kembali masuk kelas untuk belajar menulis bersama dengan sobat anak lainnya. Cuaca yang tidak bersahabat membuat beberapa relawan tidak bisa hadir dikelas sehingga saya bersama 2 relawan lain cukup kelelahan untuk menghandle 49 anak. Kami harus berlomba lomba “bersuara kencang” dengan derasnya hujan. Ditambah atap di ruang kelas yang bocor sehingga beberapa adik harus bersedia berbagi tempat duduk dan bersempit-sempitan. Sungguh sangat melelahkan melihat sebagian besar adik mulai berani dan tidak mendengarkan kami.

10850799_980995428582580_500738712_n

Namun siapa yang sangka disela kepenatan itu saya merasa bahagia. Bagaimana tidak?Seorang adik menunjukkan kemajuan yang sangat manis bagiku. Lelaki kecil tampan ini bernama Muhammad ramadhani. Diawal pertemuan kami dikelas 4A, ia bersama beberapa anak laki-laki dikelasnya dengan mudah kukenali. Ia termasuk anak yang senang mengganggu kawannya dan sulit untuk tenang. Menatap, menegur bahkan duduk disampingnya hanya untuk memastikan ia menuliskan karangannya telah kulakukan. Ia selalu punya alasan untuk bisa mengganggu temannya.

Hingga pada suatu waktu saya memilih duduk tepat disampingnya dan menegaskan pada teman-temannya untuk tidak berbalik atau merespon panggilannnya hingga akhirnya ia mau menulis. Setelah ku dampingi, saya menemukan bahwa ia memiliki tulisan yang kecil dan rapi, akan tetapi ia “lebih” lambat dalam menulis dan seringkali membutuhkan sedikit bantuan untuk memulai karangannya. Disetiap ia memulai menuliskan karangannya, saya berusaha untuk selalu memuji tulisannya yang rapi hingga ia pun menyadari hal itu.

Pagi tadi ia masih bertingkah dengan memukul-mukulkan penggaris dimejanya saat kawan-kawannya mulai menuliskan karangan. Segera kuambil mistar dari tangannya dan menegur perilakunya. Ia lalu bertanya padaku “kak, sampai berapa paragraph ini?” Dan ada saja pertanyaan berikutnya setelah pertanyaan yang pertama. Tidak kusangka ia langsung menulis dan setelah berhasil menuliskan satu baris ia kemudian menunjukkannya padaku sambil berteriak “Kak.. seperti ini kak?” tidak lupa saya memuji tulisannya lagi. Hingga pada sesi gantian berbicara didepan, saya berpindah untuk memeriksa hasil karangan dan ramadhan kemudian datang padaku hanya untuk menunjukkan jika tulisannya sudah sampai satu paraghraf. Tidak mau melewatkan moment ini, segera kuabadikan aksinya dan ia dengan sangat senang menunjukkan tulisannya.

ramadhan

Tidak hanya itu, ketika berpindah ke sesi mendengarkanstory telling, Ramadhan memilih menuliskan kembali setiap pertanyaan yang dituliskan di papan tulis meski kami telah meminta kepada semua agar langsung menuliskan jawabannya saja karena bell jam istirahat telah berbunyi. Tentu saja dengan senang hati ia menunjukkan lagi tulisannya kepadaku meski harus menghabiskan waktu istirahatnya didalam kelas dengan menulis.

Memberikan Reward berupa pujian pada hal sederhana yang dimilikinya ternyata sangat tepat. pujian yang tepat akan menyebabkan tumbuhnya rasa percaya diri dan membuat anak senang dan bangga atas dirinya sendiri. Dear sobat, mari melihat dari sisi lain dengan tidak fokus pada kenakalannya namun membantunya menunjukkan kelebihan yang dimilikinya ^_^

Belum (Ingin) Tahu

Saya seorang perempuan berusia 22 tahun yang tidak tahu mengendarai kendaraan. Bukannya tidak ingin belajar, namun saya mengalami sedikit trauma ketika mempelajarinya, tanda hasil belajarku pun masih ada dan menjadi tattoo alami di salah satu bagian tubuhku. Saya rasa alasan itu cukup menjadi alasan yang masuk akal. Sekali waktu, saya disapa dengan sangat manis oleh seorang kawan ketika kami tengah bercanda, “ini fany toh nda adanya na tau apa-apa”. Tidak ada yang salah dengan statementnya, saya memang merasa belum menguasai satu hal karena sifat serakahku yang selalu ingin tahu banyak hal. Namun ia mengukur ketidaktahuanku berdasarkan ketidakmampuanku mengendarai kendaraan. Lucu saja.. hahaha.. lucu..

baby rideBeberapa hari yang lalu, seorang kawan pernah menanyakan hal yang sama. Menurutnya ia tidak bisa apa-apa tanpa kendaraan. Ia tidak bisa membayangkan saya harus berjalan jauh atau memohon bantuan orang lain tuk mengantarkan. Saya hanya tertawa.. sesederhana itu kah ia melihat sesuatu? Siapa lagi yang memanfaatkan jasa angkutan umum jika bukan saya? Sejauh ini saya merasa sehat dan hemat dengan jalan kaki. Bahkan dengan berbaur dengan sesama penumpang pun kita bisa mendapatkan banyak hal (informasi dan melatih kesabaran tuk berbagi).

Saya pernah beruntung mengikuti event kepemudaan dan bertemu dengan kawan kawan hebat dari seluruh Indonesia. Disana saya sempat berbincang dengan ketua event tersebut (sebelumnya saya telah membaca profil beliau dan ada hal menarik yang membuatku ingin berbincang dengannya). Beruntung ia juga tengah mendalami bidang kelilmuan yang sama denganku sehingga tidak butuh waktu yang lama tuk menjalin kedekatan dengannya, untuk ukuran anak muda seusianya ia sangat hebat. Jabatan, harta sudah ia miliki, kendaraan pribadipun tentu saja ia punya, namun ia adalah seseorang yang dengan setia menggunakan angkutan umum di kota yang terkenal dengan macetnya. Alasannya adalah dengan menggunakan angkutan umum, ia tetap bisa menjaga dan melatih kepekaan sosialnya. Menarik! Menurutku itu salah satu cara pandang yang menarik..

Saya menyimpulkan beberapa manfaat dengan menjadi pengguna setia angkutan umum
(btw, saat ini saya sedang belajar kembali mengendarai kendaraan pribadi), diantaranya:

  1. Melatih kesabaran (berbagi tempat duduk, menahan diri dari kegaduhan penumpang lain dan berbagi bau dengan bau penumpang) <(>.<”)> kyaaaa…
  2. Menambah kawan (kenalan dengan penumpang lain, kali aja jalan ketemu jodoh lewat tangan kenalanmu.. modusitation :3 )
  3. Melatih sensistifitas
  4. Melatih keberanian
  5. Melatih kemandirian

Sejauh ini saya tidak pernah mempermasalahkan kondisi tersebut karena hal itu sama sekali tidak menghambat pergerakanku. namun, saya senang ada saja orang yang mengkhawatirkan diriku diluar diriku sendiri. Terima kasih untuk perhatiannya 🙂